AROGANSI SEORANG PENYANYI KELAS TERI

keimananku
Dalam siklus karir bermusik, seorang musisi yang lagi naik daun pasti pernah mengalami fase arogansi. Fase dimana dia sedang berada di puncak ketenaran. Karena merasa diatas angin, sifat sombongnya keluar. Perilaku sombongnya berbagai macam, dan menjurus pada sikap arogan.

Saya sebagai vokalis Edcoustic, jujur pernah mengalami fase tersebut. Padahal band ini belum setenar Noah. Belum sepopuler Opick. Bahkan belum seheboh Zaskia Gotik. Berarti sebetulnya saya salah fase. Tapi karena arogansi yang pernah saya lakukan, fase tersebut keduluan lewat dalam band ini. Ini artinya Edcoustic itu sok tenar, sok ngartis. Baiklah.

Arogansi pertama. Terjadi saat single ‘7 Surga’ masuk dalam album kompilasi yang dibuat Forte Nada Hijrah. Dalam album ini, saya berharap Forte mempromokan secara gencar single ini di televisi. Dibuatkan video klip. Masuk ke program-program musik seperti Dahsyat atau Inbox.

Tapi nyatanya tidak. Forte memilih Trio Fatimah yang kala itu menyanyikan lagu saya juga, Keimanan. Menjadi single andalan album ini. Saat itu saya kecewa. Kecewa sekali. Padahal (ini fase arogannya) saya merasa sudah saatnya Edcoustic masuk di televisi melalui album ini. Sudah saatnya tidak berkutat dikomunitas nasyid saja. Mengapa kehadiran Edcoustic di Forte masih disia-siakan.

Begitu ceritanya. Usut punya usut, beberapa kolega saya merasa kurang nyaman dengan sikap ambisius saya. Apalagi ini dunia religi. Seharusnya saya lebih wise, lebih legowo. Mungkin salah satu yang kurang suka adalah GM Forte, mba Danti. Kalo saya jadi beliau, pasti saya bilang: “Lu siapa? Udah untung gw masukin ke album”.

Beruntungnya mba Danti lebih wise. Dia bisa memahami saya sebagai musisi baru. Orang-orang seperti saya pasti sering beliau temui. Jadi dia ngerti, gimana cara ngadepinnya.

Saya akui itu salah. Saya terlalu sombong. Terlalu ambisius. Seharusnya saya bersyukur bisa terlibat dalam album itu. Disaat banyak teman-teman saya kesulitan menembus major label.

Memilih single utama itu bukan hal mudah. Saya baru mengerti sekarang, kenapa Fatimah. Karena secara komersil mereka sangat layak. Baik dari sisi penampilan fisik juga keartisan mereka. Lah Edcoustic, dua cowok kerempeng dengan modal muka pas-pasan. Butuh waktu lama untuk memoles Edcoustic menjadi artis yang siap dijual. Saya akui kita memang belum siap. Saya jadi inget, Allah akan memberikan kita sesuatu saat kita dianggap layak dan siap.

Kesalahan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya. Pelajaran yang sangat membekas. Dalam bermusik tidak boleh ada rasa iri, ambisi terlalu tinggi, apalagi mengagung-agungkan diri sendiri. Filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Dan kini sedang saya terapkan dalam Edcoustic.

Sebetulnya ada satu lagi arogansi kelas teri dalam episode perjalanan Edcoustic. Kalau mengingatnya saya suka malu. Ketawa-ketawa sendiri. Sebegitu arogankah diriku? Nanti akan saya tulis di seri berikutnya.

2 thoughts on “AROGANSI SEORANG PENYANYI KELAS TERI

  1. Proses belajar bisa terjadi pada diri sendiri, dan hal ini bisa menjadi pembelajaran juga buat orang lain. Thank’s Kang Aden :’)

  2. heu2. . Subhnalloh. . Knpa bru tau skrang y, trnyata kang aden teh lucu,jujur. . Saceplosna saur org sundamah. . Allohummaghfirlahu😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s