TARAWEH PERTAMA DI SALMAN ITB, MASJID PENUH KENANGAN

Image

Tarawih malam pertama sengaja aku jadwalkan di masjid Salman ITB. Masjid penuh kenangan semasa kuliah dulu, 10 tahun lalu. Setiap sholat disana selalu saja menghadirkan slide-slide masa lalu. Seperti dalam laguku “Sepotong Episode Masalalu”, tiap sudutnya punya cerita tersendiri.

Seperti tadi, aku duduk sambil mendengarkan kultum tarawih mas Syarif, petinggi Salman. Sambil juga menatapi masjid besar ini. Dulu awal masuk jadi aktifis Salman, seniorku sering bercerita tentang filosofi setiap dinding bahkan lampu yang ada dimasjid. Kenapa jumlahnya ada lima, kenapa ada 27, kenapa semua berlapis kayu, hingga kenapa atapnya tidak berkubah seperti masjid lainnya. Sungguh hebat arsitek masjid ini, beliau membuatnya dengan konsep yang jelas, hingga saat ini pun bangunannya masih kokoh berdiri tanpa perubahan.

Salman memang unggul dalam konsep dan sistem. Tak hanya bangunannya, tapi juga SDM didalamnya. Sejak tahun 70-an hingga kini masjid kampus ini selalu saja dinamis dengan berbagai aktifitas dakwahnya. Itulah pelajaran penting yang aku dapat dari sini. Konsep dan sistem.

Saat wudhu, airnya masih sedingin dahulu. Untung saja lantai masjidnya dari kayu, jadi lebih hangat saat menikmati solat berjamaah. Dulu setiap sabtu dan minggu aku luangkan untuk kegiatan disini. Bermodal uang 3-5 ribu rupiah untuk ongkos dan makan selama dua hari, uangnya aku kumpulkan dari sisa-sisa uang jajan kuliah.

Mamaku sempat ngomel, buat apa aktif di masjid kampus orang lain. Rumah, kampus UIN dan masjid Salman, seperti segitiga bermuda, tiga daerah yang sama-sama jauhnya. Buang-buang uang saja, pikir mama.

“Manfaatnya mungkin nanti ma, setelah beres kuliah” jawabku singkat.

Benar saja. Saat aku lulus, para alumni membantuku mendapatkan pekerjaan layak, sebab ikatan alumni Salman memang sangat kuat. Tidak hanya itu, embrio band Edcoustic lahir dan disokong penuh oleh orang-orang Salman juga. Peran lingkungan Salman sangat membantuku, hingga  aku bisa seperti sekarang.

Jujur saja, dulu aku disebut aktifis Salman, padahal tidak terlalu aktif. Jarak yang cukup jauh dari rumah membuatku sulit untuk seaktif teman-teman lainnya. Andai saja aku tidak menciptakan lagu Hymne Salman, dan membuat grup Edcoustic, mungkin sampai sekarang aku tidak akan dikenal banyak alumni. Mengeluarkan kemampuanku bermusik, efektif juga untuk sekedar dikenal sebagai alumni hehe..

Tarawih pertamaku memberi kesan tersendiri. Aku yakin jika setiap malam bisa tarawih ditempat-tempat yang berbeda, baik itu dimasjid maupun dirumah, akan tercipta kesan-kesan tersendiri.

2 thoughts on “TARAWEH PERTAMA DI SALMAN ITB, MASJID PENUH KENANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s