7299357098_ef3becd786_o

PENGALAMAN KERJA DI TIMEZONE

Terharu sendiri membaca tulisanku Penjaga Toko Buku yang ditulis tahun lalu. Membawaku pada masalalu. Bersusah susah mencari pekerjaan untuk meraih kebahagiaan. Setelah bekerja tetap saja tidak bahagia. Maka aku hanya bertahan satu bulan sebagai penjaga toko buku itu.

5 bulan kemudian, November 1998. Aku kembali diterima bekerja. Kali ini lebih beradab dari sebelumnya, perusahaan besar dari Australia bernama Timezone. Kamu pasti kenal dengan nama itu. Yup, toko permainan yang tersebar disetiap mall kota-kota besar.

Aku lulus tes dari ribuan pelamar yang memadati hotel Naripan, Bandung. Itu adalah berita yang sangat menggembirakan bagi mama. Beliau bersemangat menyiapkan segala perbekalan, karena masa training kerja diadakan di kota Jakarta. Ia bahkan mengantarku ke stasiun Bandung. Untuk pertama kalinya aku menumpangi kereta Parahyangan Bandung-Jakarta kelas bisnis. Untuk pertama kali pula aku pergi ke ibukota, yang biasanya hanya aku lihat dari televisi hitam putih di rumah.

Semasa SMA aku sering menyebrangi kereta Parahyangan ini. Hanya sekedar menyebrangi, sebab kereta ekonomi jurusan Rancaekek ada dijalur lain. Setiap kali menyebrang lewat pintu masuk, hawa dingin dan harum terasa sekali. Hanya beberapa detik saja, setelah itu aku masuk kereta ekonomi tercinta, dijalur berikutnya. Hawa panas dan pengap menyeruak, bercampur asap rokok dan bau tujuh rupa khas kereta KRD. Dari dalam KRD aku menyaksikan dua pemandangan berbeda dari kelas sosial yang berbeda. Kereta ini penuh sesak, bahkan sampai diatas atap. Sementara disebrang sana full AC dengan kursi empuk menghadap televisi. Aku sering bergumam, seandainya saja pak presiden merasakan naik KRD, mungkin nasib kereta ini akan berubah.

Itulah mengapa aku sangat girang, kali ini kesampaian juga menumpangi kereta Parahyangan, meski duduk di kelas bisnis tanpa AC. Tapi setidaknya aku memperoleh tempat duduk yang nyaman, tanpa gerbong yang penuh sesak seperti kereta harianku.

Tibalah aku diJakarta. Betapa bahagianya bisa melihat monas dari balik kereta. Gedung-gedung pencakar langit dikanan kiri. Hawa panas 10 derajat lebih tinggi dari Bandung. Ya Tuhan, aku di Jakarta. Mungkin aku hanya sebagian kecil dari orang-orang yang kegirangan bisa datang ke Jakarta. Disaat hampir sebagian besar penduduk dunia mem-black list kunjungannya ke kota ini.

Tahun 98 adalah puncak kekacauan Jakarta. Krisis ekonomi yang berujung pada kerusuhan massal telah menghancurkan kota ini. Dunia menyaksikan betapa Jakarta sangat tidak aman untuk dikunjungi. Barikade polisi dan tentara ada dimana-mana. Pagar-pagar kawat berjejer dihampir setiap gedung. Aku menyaksikan sendiri kondisi Jakarta 1998.

Selama dua minggu massa training disana, Jakarta tak sekacau yang orang bilang. Masyarakatnya masih hidup normal seperti biasa. Hanya saja tiap hari diwarnai demonstrasi dan kerusuhan disatu dua titik saja. Beberapa teman trainingku bahkan sempat merasakan berlari, tiarap dan menceburkan diri keselokan, saat terjebak demonstrasi besar dibilangan Jakarta barat. Aku sendiri alhamdulillah tak mengalami hal serupa, aku hanya menyaksikan puing-puingnya saja.

Tak banyak memperdulikan kondisi negara saat itu, aku lebih fokus belajar menjadi customer service Timezone yang baik. Tempat kerja pertamaku adalah Timezone mall Taman Anggrek. Disana aku belajar membersihkan mesin, melayani pelanggan, menghitung uang dikasir, hingga menata boneka dan hadiah lainnya dicounter. Saat istirahat kami menyusuri petak-petak kumuh didepan mall, mencari makanan murah meriah. Pulangnya aku naik kopaja menuju pasar baru, karena kosan kami disana semua.

Sebetulnya aku kerasan tinggal di Jakarta. Tapi masa trainingku habis, hanya 2 minggu saja. Maka pulanglah kami ke Bandung menaiki kereta yang sama, Parahyangan. Aku pulang kerumah dengan sambutan haru biru keluargaku. Mamaku senang bukan kepalang, karena disaat aku diJakarta ternyata kakakku juga mendapat pekerjaan di sebuah pabrik. Lengkaplah kebahagiaan kami. Mama merasa terbantu dengan dua anaknya yang sudah berstatus pegawai.

Nah lucunya, kakakku mendapat pekerjaan atas namaku. Jadi saat diJakarta, ternyata aku mendapat panggilan kerja dari pabrik. Iseng-iseng kakakku datang, mengaku diriku. Entah orang yang wawancaranya rabun atau pikun, kakakku tanpa disangka lulus tes. Jadilah ia buruh pabrik dengan ID Card bernama Deden Supriadi. Aku tak kuat menahan tawa. Semua orang bilang ini konyol, tapi memang ini kejadian.

Sejak saat itu, jika ada teman kerja kakakku datang kerumah, maka aku disuruh pergi. Kalopun tidak pergi, aku disuruh sembunyi dikamar. Konyolnya aku nurut saja. Dan lebih konyol lagi, aku melakukannya dalam jangka hampir lima tahun. Bahkan saat pernikahan adikku tahun 2001, kehebohan sempat terjadi saat rombongan karyawan pabrik kakakku datang. Semua keluarga serempak mencari dan menggiringku kekamar. Itu adegan paling lucu sedunia, sebab disaat orang sibuk lalu lalang, keluargaku dari berbagai penjuru panik bersamaan. Yang terbayang oleh mereka adalah aku, dan yang terpikir oleh semuanya adalah menyembunyikanku. Setelah rombongan pulang, barulah aku keluar dan semua tertawa terbahak-bahak.

Sekilas aku merasa hidupku saat itu sudah lengkap. Mempunyai pekerjaan baru, kakakku juga. Memiliki keluarga yang hangat, meski berjejalan dirumah petak kecil. Mamaku tak putus mengucap syukur, maka iapun mengadakan syukuran kecil-kecilan atas keberhasilan dua anaknya mendapat pekerjaan. Malam itu diruang tamu yang sempit. Berkumpullah keluarga dan beberapa teman dekat, membaca surat yasin lalu ditutup dengan doa penuh khusyu. Mama kemudian menghidangkan kami nasi kuning dan ayam balado, sungguh terasa mewah.

4 thoughts on “PENGALAMAN KERJA DI TIMEZONE

  1. Jadi cerita manipulasi data buruh pabrik itu gimana kang Aden,heheh……bener tuh pabrik…rabun ..siang apa ?hehhe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s