5425519839_c5b653b320_o

TIPS HIDUPKAN LAGI INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Miris rasanya mendengar perkataan Log Zhelebour, produser rock legendaris, menanggapi kondisi suram bisnis musik tanah air tahun ini,

“Industri musik apalagi fisik (kaset atau cakram padat) sudah habis. RBT (Ring Back Tone) podo ae (sama saja). Satu-satunya jalan ya memperbanyak konser,” …diambil dari situs bisnis.com

Kejayaan RBT yang sempat menjadi pendapatan utama semua  perusahaan rekaman, redup sudah. RBT yang menyumbang hampir 90% sumber pemasukan dalam sekejap mati suri, akibat terseret kasus pencurian pulsa sejak 2011 lalu.

Penjualan fisik CD album semakin tak bisa diandalkan, akibat pembajakan yang merajalela mulai dari emperan toko hingga download gratis di internet. Toko kaset satu persatu tutup, tinggal beberapa saja yang bertahan. Sementara penjual CD bajakan semakin meluas, bahkan mulai membuka lapak dimall-mall.

Potret suram ini jelas memukul para pelaku industri musik, utamanya record label, yang sangat berpangku tangan terhadap penjualan CD dan RBT. Bukan tidak mungkin perusahaan rekaman pun mengikuti jejak suram toko-toko kaset. Menutup usaha musiknya.

Itu berarti akan menghambat setiap musisi merilis karya-karyanya. Itu berarti akan semakin sedikit artis yang mampu bertahan. Dan itu berarti tanda-tanda runtuhnya industri musik secara keseluruhan. Seperti yang pernah terjadi pada dangdut, rock, nasyid dan musik daerah.

Era kaset berganti ke CD, lalu muncul RBT, disusul fulltrack. Dan kesemuanya saat ini belum mampu menstabilkan roda ekonomi musik kita. Lalu era apalagi kedepannya? Belum ada yang bisa memprediksi. Satu-satunya jalan adalah kembali membenahi yang ada, yakni CD, RBT dan Fulltrack. Dan atau kembali ke kaset.

Saya teringat dulu dipertengahan 90an, bisnis bioskop mengalami nasib sama persis dengan musik saat ini. Budaya menonton di bioskop mulai ditinggalkan, akibat maraknya sinetron dan booming VCD Player. Orang-orang lebih suka membeli film bajakan dan menontonnya dirumah, lebih murah dan praktis. Satu persatu pengusaha bioskop bangkrut. Tinggal mereka yang mempunyai jaringan bioskop luas yang mampu bertahan.

Barulah diawal 2000-an kondisinya membaik. Saya melihat lagi orang rela antre berjam-jam untuk menonton film Titanic di Cinema 21. Hal serupa juga  dialami film Ada Apa Dengan Cinta, film lokal yang menjadi cikal bakal kembalinya industri perfilman Indonesia.

Ada yang menarik disini. Jika kita menganalisa, banyak faktor yang menyebabkan orang mau lagi datang kebioskop. Salah satunya adalah soal harga tiket. Saya ingat waktu itu harga tiket cuma 10 ribu, dari asalnya hampir mendekati 20 ribu di tahun 90an. Dari pada beli bajakan, lebih baik ke bioskop. Bedanya cuma 5 ribu perak, lebih puas pula.

Selain soal harga, 21 juga mulai membenahi  infrastruktur. Mulai dari fasilitas teknologi layar, sound, hingga letak keberadaan bioskop yang menyasar ke mall-mall. Semua itu untuk memberi kenyamanan dan kemudahan bagi konsumen.

Kembali pada industri musik, siklus bisnis yang dialami bioskop sangat bisa terjadi dalam musik. Intinya, sebetulnya adalah tentang nilai lebih. Apa yang dilakukan Cinema 21 adalah memberi konsumen nilai plus melalui penurunan harga dan peningkatan fasilitas. Konsumen mendapat pengalaman berbeda ketimbang nonton VCD player dirumah.

Jika CD ingin kembali menjadi primadona, pertanyaannya apa nilai lebihnya, ketimbang  CD bajakan 5 ribuan? Apa yang membuat orang bangga membeli CD original?

Jika RBT ingin booming lagi, bersihkan dari persoalan pencurian pulsa. Lalu kampanyekan lagi nilai prestise pengguna RBT, yang sempat menjadi nilai lebih RBT tahun-tahun belakang. Kenapa prestise, ya habis apa namanya selain itu? Wong RBT itu kan didenger orang lain. Dia bayar 9 ribu per bulan, padahal dia sendiri tidak menikmatinya. Terus buat apa dong ? Ya apalagi kalo selain untuk pencitraan dirinya.

Saya yakin jika CD dan RBT mampu memberikan nilai lebih bagi pembelinya, roda ekonomi musik kita akan mulai membaik perlahan-lahan. Kecuali jika ada teknologi baru yang menciptakan pengalaman baru menikmati musik, itu adalah cara lain menghidupkan kembali industri musik tanah air.

3 thoughts on “TIPS HIDUPKAN LAGI INDUSTRI MUSIK INDONESIA

  1. Sebenarnya faktor utama mati surinya musik Indonesia, dikarenakan kecanggihan tekhnologi, kapan saja orang bisa mendownload lagi yang mereka sukai,lewat browsing. salah satu saran pemasukan bagi musik ya perbanyak off air, karena off air dibanding mendengarkan leawt media,beda kepuasan yang didapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s