edc

EDCOUSTIC DULUNYA MIIY

Suatu malam diawal tahun 2002, aku dikejutkan dengan kabar keikutsertaanku disebuah festival nasyid, namanya Bandung Nasheed Audition. Tanpa sepengetahuanku, Eggie memberanikan diri mendaftarkan kami berdua ikut dalam lomba tersebut.

“Berdua Gie?” tanyaku

“Iya” Eggie senyum-senyum

“Trus nama grupnya apa?”

“Aku juga bingung pas ditanya panitia, langsung aja aku inget ‘Muhammad Isa Ibrahim Yusuf’ haha..”

Gubrakk.. Dia mengambil nama buat anakku kelak. Kami tertawa.

“Panitia juga geleng-geleng kepala. Personil cuman dua orang, tapi namanya panjang amat. Alirannya pun akustik pula. Grup yang aneh” sambungnya. Perlu diketahui, saat itu nasyid sedang trend dengan musik melayu atau accapella. Diluar itu ya aneh aja.

Kok cuma berdua? Begini ceritanya, waktu itu kami sebetulnya tengah tergabung dalam  grup accapella beranggotakan enam orang. SIFA namanya. Baru setahun malang melintang eh beberapa personilnya banyak yang sibuk sana kemari. Pada intinya mereka memang menganggap SIFA hanyalah penyaluran hobi tok. Tak bervisi untuk menjadi profesional. Ini yang sering menjangkit hampir sebagian besar grup-grup nasyid pemula. Akhirnya pada saat memiliki kesibukan lain, bernasyid ada pada posisi teratas untuk ditinggalkan dalam list kegiatan. Betul kan? Itu yang pernah dirasakan SIFA.

Eggie tahu aku kecewa. Karena bagi aku dan dia, musik adalah hidup kami. Makanya saat ia membaca pamflet lomba nasyid berhadiah rekaman, tanpa berpikir panjang ia mendaftarkan diri. Bukan SIFA, tapi berdua aja. Karena cuma kita berdua yang punya mimpi besar menjadi musisi. Menuliskan besar-besar “Menjadi musisi legendaris” dalam daftar mimpi-mimpi kami haha.. begitu ceritanya.

Singkat cerita MIIY berhasil masuk setahap demi setahap proses seleksi lomba, sampai akhirnya masuk grand final. Diacara final itu kami berdua tampil dengan aksesoris serba minjem. Gitar minjem, kostum berupa jaket almamater Karisma Salman ITB juga minjem. Bayangkan, kostumnya aja cuma jaket. Kami takjub dengan finalis lainnya yang serba wah memakai kostum baju koko. Kita tampil sangat sederhana. Cuma modal nekat aja yang ga minjem. Itu mah sudah satu paket dengan modal ga tau malu.

Alhamdulillah, kita terpilih menjadi salah satu dari 10 grup nasyid yang bakal masuk album kompilasi 2002. Senang sekali. Berkat keberhasilan ini kami mendapat kesempatan pertama kali wawancara di salah satu radio swasta. Beberapa kali kita ikut rapat persiapan rekaman, hanya kita yang cengar cengir, grup nasyid lainnya sangat serius membahas hal yang sebetulnya tak perlu diperdebatkan. Bagi kami, yang penting adalah mempersiapkan lagu komersil. Dan itu sudah siap. Sisanya, ya cengar cengir saja..

Dalam perjalanan MIIY, kita pernah merekrut satu orang lagi untuk jadi backing vokal. Jadinya tiga orang. Tapi tak berlangsung lama, sehubungan dengan kesibukan dan hal lainnya. Sejak itu, kami bertekad untuk tidak menambah personil lagi. Kalaupun ada, itu hanya sekedar add player saja.

Album kompilasi rilis november 2002, MIIY membawakan lagu Remaja Peduli. Namun karena kurangnya promosi, album ini tidak banyak yang tahu dan dikonsumsi kalangan internal saja. Baru, tahun 2004 album ini ojol-ojol didengar produser dari Yess Production, indie label yang punya pengaruh kuat didunia nasyid Bandung. Mereka mengundang kami berdua untuk menawarkan album pertama. Dan terjadilah Edcoustic.. hehe sampai seperti sekarang.

Nah bagaimana proses pergantian nama dari MIIY menjadi Edcoustic? Aku sudah ngantuk. Lain waktu aku ceritain okeh.

20 thoughts on “EDCOUSTIC DULUNYA MIIY

  1. biarpun nasyid gak kesohor kayak band atau pun boy band, tapi nasyid is the best…
    syairnya sarat makna… albumnya bisa dicari dimana yaa…??

  2. ceritanya bagussss dan menarik banget..:)
    kerennnn euy..!
    modal nekat untuk jadi orang hebat,,mantapp..!!!

    btw nama MIIY itu jadi dibuat untuk nama anaknya a’aden?
    beuhh, bagus bgt namanya, kumpulan nama2 nabi dan rosul..

    aturan namanya Muhammad Nuh Isa Ibrahim Musa aja, jadi Ulul Azmi deh tuh..:D

    boleh nebak ga ttg nama EDcoustic? ED-nya itu singkatan Eggie-Deden , trus coustic nya dari kata acoustic karna alirannya akustik…
    hehe..bener ga?? *sotoy gitu* *peace*😀

    kan, cuma tebak aja..:)

    ya udin, abdi tunggunya kalanjutan carita na..:)

  3. a aden, kisahnya menarik. jadi rada kabita jadi munsyid kayak a aden.

    a, kapan atuh manggung di Banjar?
    pencinta nasyid distrik banjar banyak juga lho…

  4. dan ‘pilihan’ yang antum berdua tempuh tidak salah…
    karena ‘edcoustic’ telah meng’inspirasi dan me’motivasi dengan syair2nya yang “akustik” itu…

  5. Asalm wr wb.
    baru tahu nih kang den..kalo edcoustic ini dulunya MIIY..Sukses kang…di dunia seni…lanjutkan menuju peradaban islam.. ebab salah satu unsur peradaban adalh adanya seni..tentunya seni yang memiliki nurani

  6. wow..itu sepuluh tahun yg lalu yaa…hhehehehe

    d tunggu kelanjutan ceritanya.. (hrs yg lebih menarik & trharu yaa…hhihihih)

  7. subhanolloh…
    berkesan juga,sampe ketawa ketiwi sndiri…hheheheh
    waktu umur berapa tuh a’den d poto nya?wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s