TANTE GIRANG

Menilai seseorang memang harus adil. Tak bisa kita menjeneralisir dia manusia jelek atau baik. Karena keduanya selalu ada dalam diri seseorang.

Minggu kemarin aku bertemu dengan teman lama. Ia tampak sudah dewasa, lebih dewasa dari umurnya. Bahkan lebih kelihatan tua dibandingku, yang lebih tua, barang 2 tahun.

Banyak hal yang ia ceritakan, tentang kehidupannya saat ini. Tapi dari sekian kisahnya, yang selalu nempel dalam ingatan adalah soal hobinya menggaet wanita kaya yang berumur. Sebuah dunia yang tak pernah aku sentuh, niatpun tidak.

Mungkin karena ia percaya padaku, dengan gamblang ia ceritakan ihwal pencarian dan kisah-kisahnya. Aku dengarkan, seksama sekali. Setiap jengkal ceritanya, mengandung hikmah yang bisa aku petik dikemudian hari. Terkesan negatif, memang. Tapi bukankah itu pelajaran berharga yang tak bisa aku dapatkan dibangku sekolah?

Aku tahu dia salah. Diapun tahu itu salah. Tanpa bertanyapun, dia tahu aku tak setuju dengannya. Pun dia tahu, aku bukan tipe manusia penghakim. Jadi dia bebas mencurahkan isi hatinya, tanpa ada perasaan aku akan menghakimi dan mengutukinya.

“Saya memang tidak mencintai mereka (wanita-wanita kaya itu). Saya butuh uang mereka. Kehidupan saya selama ini tercukupi, ya dari orang-orang seperti mereka. Mana bisa gajiku mencukupi biaya sehari-hari” tuturnya kalem.

Inti dari semuanya adalah soal materi. Dia senang melakukannya, karena dorongan ekonomi. Meski aku ragu soal hubungan “intim” dan dia bilang tak pernah sejauh itu, whatever, itu urusan dia.

“Sejauh ini saya tak pernah mau ‘berhubungan badan’, meski mereka kadang meminta. Ada saja alasan yang saya utarakan, untuk menolak ajakan itu. Untungnya mereka tak pernah memaksa. Yang mereka butuhkan cuma kasih sayang dan kepuasan sesaat. Impas. Mereka butuh kemudaan dan ketampananku, dan aku butuh uang mereka.”

Oh betapa sempit pemikiranmu, sahabat. Hanya karena rupiah, kau rela menjual harga dirimu. Aku berpikir, setiap orang berhak untuk memilih. Dan dia telah memilih apa yang menurutnya jalan terbaik. Tentu tidak bagiku. Betapa tak berharganya aku jika harus mengemis, sementara aku punya banyak potensi untuk menghasilkan yang namanya uang. Bukan aku saja, kalian. Aku suruh kalian untuk berdiri diatas kaki sendiri.

“Kamu nggak membenciku kan?” ibanya. Ouggh, aku peluk dia. Sebentar saja aku beri pandanganku sendiri. Lalu aku tutup dengan:

“Its ur choice man. Aku sudah beri pandangan. Terserah kamu mau beranggapan apa. Baik buruk, kamu tetap temanku. Hanya tolong, pertimbangkan nasehatku”

Orang seperti dia, apalagi teman, bukan manusia yang patut dijauhi. Tapi patut ditolong. Cam kan itu sob. Dia tak mungkin membeberkan hal ini pada teman kami yang lain, yang kerjaannya hanya menggurui dan menghakimi. Lebih parahnya, dijauhi dan diperbincangkan pada yang lainnya, bahkan diforum-forum diskusi. Terkutuk! Manabisa itu disebut teman.

Orang seperti dia bukanlah wujud iblis yang abadi. Hari ini mungkin dia salah. Hari besok bisa jadi manusia mulia. Sebagai teman, aku rasa dia butuh support. Dan aku berikan. Yang terpenting aku sudah beri pemahaman sesuai pendirianku, selebihnya serahkan pada yang diatas. Yang Maha membolak balikkan hati.

6 thoughts on “TANTE GIRANG

  1. saya mau jdi kya kang Aden.
    dimana setiap teman, bahkan siapapun orangnya bisa dengan nyaman berbagi tentang perjalanan hidupnya agar saya dapat banyak belajar dari mereka.🙂

  2. memang kadang manusia di kalah kan oleh kebutuhan yang bersifat materi belaka namun kita sebagai hamba Allah tidak sepantasnya kita menghakimi,mungkin kita tidak bs membantu dg materi tp dengan nasehat,motivasi n semacam itu,kesimpulannya karena kita bukan di posisi mereka yg harus menjalan kan itu smu,berikan support mu wahai sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s