PENGALAMAN DI BAIAT

IMG00280Aku bertemu dengan seseorang yang memperkenalkanku sebuah kelompok gerakan Islam. Waktu itu usiaku baru 19 tahun. Sedang muda-mudanya, sangat mudah untuk ditanami segala macam pemikiran. Beliau dengan telaten memberiku banyak pelajaran tentang agama, terutama soal pelurusan aqidah, dilanjutkan dengan masalah jihad fi sabilillah. Dari dia aku dikenalkan dengan beberapa orang yang ikut membimbingku.

Tak seperti pengajian lainnya, disini aku dibimbing secara personal, face to face, one by one. Tempatnya pun bukan dimasjid atau dimushola. Tapi dirumah yang tertutup, kadang-kadang dikamar. Awalnya aku mengerutkan kening, kok sebegitu rahasianya. Pengajian kok kayak gini. Mereka lantas menjelaskan, gerakan ini sangat dirahasiakan. Ibarat jaman Rosulullah dulu, saat awal-awal menyebarkan Islam di Mekkah. Fase ini mereka sebut sebagai fase Mekkah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi, membentuk masyarakat Islam yang betul-betul kaffah (hidup islami secara keseluruhan). Karena saat itu aku haus akan ajaran agama, semua yang mereka katakan aku iyakan saja. Dari mereka lah aku mengenal dasar-dasar Islam yang baik, mengetahui arti hidup secara islami, dan perlunya mendirikan kehidupan bernegara sesuai hukum Islam.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku mulai terbiasa menjalani pengajian seperti ini. Mendatangi satu rumah ke rumah lain, secara sembunyi-sembunyi. Tergantung rumah guru ngaji yang akan memberiku pelajaran. Ketuk pintu pelan-pelan. Lalu disuruh masuk, sekalian sandalnya juga tak b oleh disimpan diluar. Harus disimpan didalam. Meminimalisir kecurigaan pihak lain, kata mereka. Dari apa yang mereka ajarkan, meyakinkanku bahwa hidup ini haruslah betul-betul sesuai dengan syariat Islam. Mulai dari pemikiran, cara pandang, berkeluarga, sampai bernegara.

Aku mulai rajin beribadah. Dari yang wajib sampai yang sunnah. Membeli buku-buku Islam rujukan mereka. Menghadiri kajian-kajian Islam. Pakaian rapi, selera music pun jadi serba yang islami. Semua berubah. Serba berbau keislaman. Semangat jihad. Euphoria anak muda yang tengah kecanduan nilai-nilai agama.

Saatnya tiba. Inilah puncak dari keikutsertaanku dalam pergerakan mereka. Aku dibaiat. Layaknya orang non muslim masuk Islam. Disuruh bersyahadat dihadapan pimpinan mereka. Dibaitnya pun bukan dimasjid. Aku dibonceng pake motor oleh guru ngaji kesebuah jalan sepi, kompleks perumahan real estate. Disana tengah menunggu mobil kijang berisi beberapa orang berpakaian ala ustadz. Aku lalu masuk dan prosesi baiat pun berjalan.

Aku resmi menjadi salah satu jamaah mereka. Dengan kata lain aku telah menjadi muslim seutuhnya. Mereka menamakan diri sebagai masyarakat Islam. Diluar mereka, adalah kaum kafir, masyarakat jahiliyyah. Dan satu saat nanti mereka yang akan memegang tampuk pemerintahan Indonesia, merubah tatanan hokum dan kenegaraan, menjadi khilafah Islam, Negara Islam.

Selang beberapa bulan setelahnya aku mulai mencium banyak kejanggalan dari kelompok ini. Pertama aku tidak tahu apa nama kelompok ini, siapa pimpinannya, dan bagaimana sejarah organisasi mereka. Lalu aku mulai dipaksa meninggalkan seluruh aktifitasku jika bentrok dengan kegiatan jamaah. Entah itu aktifitas kerja, kuliah maupun yang berkaitan dengan keluarga. Padahal Islam yang kupahami sejak kecil tak pernah sekeras itu, Islam justru agama yang sangat mudah dan tidak mempersulit.

Ketika berkumpul dengan sesama jamaah, sangat lazim menyindir orang yang kebetulan kurang giat dalam kegiatan mereka. Mereka selalu membedakan diri, bahwa kitalah Islam sebenarnya, diluar itu adalah masyarakat kafir. Berarti mamaku juga kafir, teman-temanku juga. Sementara yang kutahu dalam Al Qur’an, persoalan kafir mengkafirkan itu adalah urusan Allah. Tak baik mengkafirkan saudara sendiri.

Jiwaku mulai berontak. Bukan Islam seperti ini yang aku dambakan. Banyak hal lain lagi yang aku sendiri tak sependapat dengan mereka. Maka aku bulatkan tekad untuk keluar dari jamaah mereka. Akhirnya aku hanya bisa bertahan dua bulan dikelompok tersebut, pasca dibaiat.

Bagiku, surga bukan milik satu kelompok saja. Siapapun bisa mendapatkannya. Salah satunya mungkin adalah pengikut jamaah mereka. Aku tidak mengatakan mereka adalah gerakan yang salah dan sesat, aku hanya tidak sependapat dengan sebagian ajaran mereka. Cukup Allah yang memvonis mana yang salah mana yang benar.

Aku bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan jamaah tersebut dalam satu episode hidupku. Sehingga aku lebih bijak dalam memberikan cara pandang kehidupan berislam. Meski tak sepaham, tapi berkat merekalah aku mendapatkan banyak ilmu-ilmu Islam. Dengan dorongan merekalah aku memilih IAIN sebagai tempatku berkuliah. Semua ada hikmahnya. Walau bagaimanapun aku tentunya harus berterima kasih kepada saudara-saudaraku disana, kita tetap saudara semuslim. Perjuangan menanamkan nilai-nilai Islam kita rajut bersama, sesuai pemahaman masing-masing. Bagiku, perjuangan tersebut masih berada pada level diri pribadi. Karena aku masih perlu pembenahan dalam diriku sendiri. Silahkan berjuang teman-teman, bravo buat kalian yang sudah pada level pembenahan orang lain dan masyarakat. Semoga kita bisa bersatu disurga kelak. Amin.

13 thoughts on “PENGALAMAN DI BAIAT

  1. hmm,, saya juga sempat ikut pengajian dengan methode yg sama gan waktu masih kuliah thun 06,,, untung g sape di baiat, dah kecium anehnya dari awal,,,baru hari ini thun 2013 juli ini,, baca2 info di google dan web, ternyata mereka golongan syiah gan, banyak dan terpusat di bandung,, hati2 ja buat ade2 yg masih belum paham benar.. agar tidak terseret dalam syiah ini gan,,

  2. Assalamu’allaikum Wr. Wb.

    Waktu saya masih duduk dikelas 2 SMA juga pernah ketemu orang seperti itu. Mereka mengajak gabung ke perkumpulan mereka dan mau mengajarkan saya tentang ilmu agama dan ilmu untuk membela diri.

    Saya menolak bukan karena curiga, tapi karena memang saat itu sedang fokus sekolah.

    http://isrin20n3.wordpress.com/

  3. Ane Juga hampir diajak Untuk Masuk kedalam Jama’ah seperti itu, Alhamdulillah Ane g’ terpengaruh. pernah beberapa kali mengikuti pengajian kelompok mereka n ane merasa aneh aja, pikiran ane g’ bisa sependapat dengan mereka.
    Ya Sudah-sudahLah itu hanya Bagian dari “sepotong episode” hidup ane:D

    Semangat Truss Berkarya…!!

  4. asslmkm..
    sama kang saia uga kek gt..
    boleh tau gmn cara akang kluar dr sana?!?

    btw boleh saia copas kagh ene?!?

  5. asslkm,5v ea kang aden neh ikutan nggabung…boleh kn,,heee. . . .
    apa disitu jamaah yang kg aden maksud tu banyak?

  6. iya kang, sama persis, baiat.nya di mobil kijang,
    waktu itu saya lagi sakit, tapi tetep dipaksa dateng kesana (simpang dago).

    saya udah curiga n11, gak tau.nya bener we n11.

    tinggalkeun we tungtung.na mah…

    tapi bener, dari sana saya dapat pamahaman” & pengalaman yang beda dari temen” saya…

  7. iya kang aden saya,,, setuju,,, kita umat islam jangan sampai memponis kafir kepada saudara kita! yang,,, se iman,,,, saya baru gabung di sini,,,, hati saya langsung nyambung ketika mendengar pengalaman kang aden,,,, Wassalam by Akhi.

  8. ia… kang sama aq juga pernah tuh, bru mau di baiat tp aku ga suka dengan gya mereka berbicara dan argumen2nya menurut aq mereka terlalu egois…..

  9. Assalmu’alaikum Wr. Wb.

    Kang Aden, minal’aidin walfaidzin ya… met idul fitri 1 syawal 1430 hijriyah.
    Sayah juga kang pernah diajak-ajak semacam itu mah. Alhamdulillah ga sampe kena baiat,,,,, bwt sobat2 yang lainnya, pandai2lah memilih yang baik buat qta… May Allah Bless you. Aamiin. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s