SEPATU WARIOR

2957170632_6862f07622_oNenekku bangga & terharu dengan keterlibatanku di Ost Ketika Cinta Bertasbih. Beliau sempat menitikkan air mata saat bertemu denganku. Kemudian mengenang kembali perjuanganku dulu saat bersusah payah bersekolah.

Yang selalu ia kenang adalah sepatu warior. Lucu rasanya jika mengingat sepatuku itu. Entah anak SMA jaman sekarang apa masih diwajibkan menggunakan sepatu warior atau enggak. Tahun 90an pastinya sepatu jenis ini diburu anak-anak sekolahan. Tak terkecuali aku.

Kelas tiga SMA mama sedang tidak mampu beli sepatu warior, jadi aku menggunakan sepatu yang sudah uzur, dibeli saat kelas satu. Sepatunya sudah rusak parah. Alas bawah sepatu  tampak tipis sekali, jadi kalo naik bis damri kerasa sekali panasnya lantai bis. Bagian depan yang berwarna putih sudah robek, ditambah kaos kakinya juga bolong pas bagian jempolnya. Kalo aku jongkok, si yang putihnya membuka, memamerkan kaos kaki bolong heu.. jadi aku siasati dengan memplester bagian putihnya itu dengan tensoplas. Jadilah sepatu cedera. Karena plesternya tidak tahan lama, maka aku rajin 3 hari sekali beli plester. Ganti copot, ganti copot. Begitulah, betapa cintanya aku sama warior itu.

Sudah berapa kali aku meminta sama mama untuk mengalokasikan dana buatku mengganti sepatu. Tapi waktu itu keadaan sangat sulit. Mama harus banting tulang menyekolahkan keempat anaknya dengan tangan sendiri. Sementara nenekku tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa berkata, sabar ya.. setiap pagi saat aku mengikat sepatu, aku sering melihat nenek memandangiku. Dan aku membalasnya dengan senyum penuh semangat, semangat bersekolah.

Sebenarnya aku malu dengan wariorku. Dikelas tak ada yang bersepatu kumal dan berplester seperti ini. Saban hari kerjaannya suka memperhatikan sepatu orang lain. Si itu pake North Star, si ini wariornya baru lagi. Kalo naik angkot, kakiku selalu diselondorkan kedalam bangku, biar orang nggak bisa lihat. Distasiun kereta, mataku sudah refleks memperhatikan berbagai macam pasang sepatu orang. Pokoknya saat itu aku seperti orang yang kena syndrome sepatu.

Kalau sudah musim hujan, aku harus ganti kaos kaki tiap hari. Soalnya sang warior tak mampu lagi melindungi kaki dari becek. Plesterpun harus ganti tiap hari. Mana jarak kesekolah juga berkilo-kilo meter. Harus menempuhnya dengan kereta api atau bis. Sampai pada akhirnya satu siang ketika pulang sekolah, sepatuku sudah tak berwujud lagi. Kena lumpur gara-gara kecipratan mobil truk.  Tak hanya sepatu, baju dan celanapun tak luput dari lumpur. Pulang-pulang aku disambut kekesalan nenek, ia marah pada dirinya sendiri lantaran tak bisa membelikan sepatu baru. Sambil menangis ia membanting sepatuku ketempat sampah. Berakhirlah sudah riwayatnya, terlantar diantara gundukan sampah.

Malamnya aku kebingungan, besok sekolah pake apa. Masa pake sandal. Mau ngambil lagi ditempat sampah juga takut sama nenek. Untungnya mama pulang kerja bawa sepatu, pas dilihat ternyata sepatu bekas. Mereknya Dans. Kata mama ini pemberian temennya yang sudah tidak terpakai lagi oleh anaknya. Alhamdulillah, lebih baik lah dibanding yang lama, meski aku harus lecet-lecet selama satu bulan, karena kesempitan.

8 thoughts on “SEPATU WARIOR

  1. Waah semangat 45 kang…suatu prjuangan di era 90-an.Q salut ma kang aden…ma mama aden jg walaupun sepatu bekas,beliau dh membuktikan saking sayang’y ma anak…
    Skrng poenya sepatu seberaha….

  2. to bamz;
    Nggak tau itu sepatu siapa, kalo ada yang merasa kehilangan, ambil aja deh di rumahku

  3. to ci2t:
    Hehe.. untuk masalah pendidikan mah, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki pun tak jadi masalah, tul ga?

  4. Semangat kang..buktinya skarang bisa beli sepatu sendiri..iya kan?…atau masih kredit?..hheu…

    itu foto sepatu siapa kang? jangan2…anak SD di ekek akang culik..buat di foto sepatunya..hheu..

    kidding..@_@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s