MUDIK ALA IRFAN

irf_22cSampai sekarang aku masih terkesima dengan kisah Irfan. Sewaktu kami satu kos dulu, malem-malem dia cerita tentang mudik terindah semasa kuliahnya. Karakter dia yang memang senang bercerita, penuh penghayatan seakan-akan seorang ayah mendongeng sebelum tidur buat kami anak-anaknya.

Irfan lebih beruntung, ketimbang aku yang hanya mudik sekira 20 kilometeran saja. Cuma naik kereta lokal pun nyampe 30 menit ke rumah ortu. Tapi dia betul-betul mudik. Karena kampung halamannya nun jauh di Sibolga sana. Naik pesawat ke Medan 3 jam juga cukup. Ditambah 3 jam dari Bandung ke Jakarta. Dan 5 jam lagi dari Medan ke Sibolga (bener ya Fan?).

Tapi dalam kisahnya itu, beliau memilih pulang kampung dengan angkutan darat. Bus maksudnya. Melewati Merak, menyebrangi selat Sunda, dan melintasi trans Sumatera, berhari-hari lamanya. Dari Bandung dia sudah merasakan kejanggalan. Bus yang bisa ia dapati tinggal bus reyot dengan bangku sempit tanpa AC, artinya itu bus ekonomi ya. Menjelang lebaran tahu lah, susah sekali mendapat tiket angkutan umum seperti bus. Harga bus ekonomi pun bisa melambung seharga bus eksekutif dikala hari biasa. Itulah hukum ekonomi yang kita pelajari dikelas dua SMA. Makanya, mendapat bus reyot pun tak kepalang girangnya ini anak. Akhirnya berangkatlah ia dengan bus tersebut.

Sampai diujung bawah sumatera, artinya Lampung ya, tolong cerdas sedikit. Ceritanya biasa-biasa. Paling cuma kepanasan, supir ngebut, duduk berdesak-desakan, ditambah beberapa penumpang yang ngeyel dan aneh-aneh. Itu sih biasa. Yang tidak biasa adalah ditengah trans sumatera bus ojol-ojol sering mogok. Ya pantes lah, dari cashingnya aja orang sudah mafhum sama ini bus. Yang lebih tidak biasa lagi, bus sempet mengeluarkan ultimatum berupa suara semacam ledakan. Ini saking supirnya kejar setoran kali. Berhamburan lah para penumpang yang sudah keletihan keluar. Kebayang neng, itu penumpang pada histeris, berlomba-lomba antara mulut, kaki sama tangan meraih pintu. Sudah mah bermandikan keringat beberapa hari sejak di Bandung. Ditambah nahan kesal gara-gara mogok terus. Eh tiba-tiba busnya kebakaran. Busyet dah. Bus reyot itu berapi-api. Orang-orang cuma bisa nelen ludah. Mau marah kesopir juga kasihan, dia pasti sedang mikirin muka bosnya yang naik pitam.

Tak ada jalan lain, harus menumpang lagi ke bus berikutnya. Dasar kudu mandi, Irfan saking letihnya kecebur keselokan kotor. Byuurrrrr.. baju, ransel, wajah, semua yang melekat ditubuh pokoknya habis dicelup lumpur kotoran, entah bekas apa. Lengkap sudah penderitaan, ck ck nasibmu fan fan…

Dengan susah payah dia akhirnya berhasil menumpangi truk berisi kelapa sawit. Entah berapa hari pemuda malang ini harus menumpangi truk, bersama ratusan sawit yang setia menemaninya sepanjang jalan. Dan saat menginjak halaman rumahnya, ia berlari sekencang-kencangnya. Sambil menangis sejadi-jadinya. Seperti seorang prajurit perang yang baru pulang dari medan tempur. Membawa kemenangan. Emaaaaaaaaaaaaaaaaaaak…………… aku pulaaang.

2 thoughts on “MUDIK ALA IRFAN

  1. Wah..wah… ditulis juga yang begini.

    Koreksi dikit pak bos.
    – Bukan ke Sibolga, tapi ke Simalungun
    – Naik pesawat Jakarta – Medan cukup 2 jam aja
    – Kejadiannya bukan di Lampung, tapi di Riau

  2. subhanallah perjalanan utuk bertemu bunda emang tidak akan pernah bisa dilupakan. Pati ada kisah menarik tiap rindu pada bunda itu menggelora dan membuat kita nekat pulang demi melihat wajah beliau. Salam buat bunda kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s