THE LION FAMILY

lionAdikku yang perempuan sempat dimaki-maki oleh seorang makelar kontrakan. Gara-gara beberapa bulan tidak membayar biaya listrik. Padahal beban itu seharusnya ditanggung oleh orang lain. Karena beberapa bulan sebelum habis, rumah itu diover kontrak ke sebuah keluarga. Padahal simakelar ini udah tau bukan lagi adikku sekeluarga yang mengisi rumah inti tipe 21 itu. Tapi entah kenapa semua ia lampiaskan pada adikku dan suaminya.

Aku sangat kenal sifat adikku. Ia tak cocok jadi pengacara atau tukang debat. Sebab sedikit saja dibentak ia langsung menangis dan menutup diri. Karena rumahnya berdekatan dengan mama, akhirnya ia datang sekompi. Dengan suami dan ketiga anaknya, semua menangis. Semuanya.

Kontan mama kaget. Nenek dan kakekku juga kaget. Pun dengan kakakku yang kebetulan sedang berkunjung kerumah. Semua serentak bertanya, ada apa? Dengan terbata-bata adikku menjelaskan duduk perkaranya. Dan kamu tahu apa yang terjadi. Mama naik pitam. Kakakku mengepalkan tangan. Dan parahnya, kakekku menggeram seperti orang kerasukan. Semua tak rela adikku yang cantik dan lembut dibuat semena-mena oleh orang lain. Sejak kecil sampai ia jadi seorang ibu, kami sekeluarga tak berani membentaknya. Jelas ini penghinaan atas undang undang keluarga kami pasal sekian.

Maka genderang perang telah bertalu. Mama langsung mengambil posisi garda depan. Melangkah gagah meski tanpa senjata. Bergegas pergi meladeni simakelar yang kebetulan bapak-bapak. Disusul kakakku sang pembantai. Dia sangat lihai membantai nyali orang, membuat ciut hanya bermodalkan mulut. Dibelakangnya tampak orang beramai-ramai menahan kakekku. Lelaki tua ini benar-benar kumat jiwa premannya. Tangannya ditarik-tarik beberapa orang. Sebagiannya lagi menahan badannya. Dan nenekku berubah bentuk jadi es. Mendinginkan hati pendampingnya yang tengah kalap.

Perang ofensif keluargaku disambut ciut sang makelar. Ia ketakutan bukan main. Mama dan kakakku meluncurkan senjata ampuhnya, bersungut-sungut. Seperti anjing menyalak-nyalak. Singa meraung-raung. Dan makelar itu hanya bisa berkata : damai.. damai..

Perang selesai. Dan kamu tahu sendiri siapa pemenangnya. Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya hehe.. Dee banget. Kemenangan gemilang itu hanya menurunkan dua pemain saja. Padahal dalam keluargaku disesaki singa-singa yang masih tertidur. Adikku paling bungsu. Bibi Ida. Uwa Soni. Dan kakekku tentunya..

Ketika kejadian aku sedang ada dirumahku sendiri sekitar bandung utara, jadi cuma denger dari mama yang bercerita dengan bangganya. Aku ketawa. Soalnya kekompakan ini bukan satu dua kali. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan hal ini. Hampir semua tetangga tahu tabiat ofensif keluarga kami. Makanya ga ada yang berani macem-macem. Jadi pas ada kejadian kemarin, mereka langsung bilang : si makelar telah membangunkan singa-singa yang sudah lama tertidur😉

6 thoughts on “THE LION FAMILY

  1. sama, mamah adam juga gt kalo marah2 serem bgd! kyk orang keiblisan bukan kesetanan lg kang! bener dah!

    eh kang, kalo komen2 gini emg wajib di jawab y??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s