Setetes Figur Yang Hilang

Seorang bapak tua pernah mengisi sosok figur yang hilang dalam hidupku. Tanpa ia sadari, tanpa ia ketahui. Figur yang belum pernah aku rasakan sejak kecil. Sosok yang sangat aku inginkan hadir, tapi Tuhan berkehendak lain. Sosok seorang ayah.

Ayahku meninggal saat aku berusia dua tahun. Praktis aku tak ingat sekalipun wajahnya, kecuali yang ada difoto. Aku tak ingat bagaimana ia membelaiku, menggendongku dipundaknya. Aku tak ingat, kawan.

Satu hari adikku pernah menangis, waktu itu aku kelas tiga SD. Sehabis pulang mengaji adikku langsung kekamar. Sesegukkan menangis. Saat aku tanya, dengan parau ia menjawab,

“Inget bapak”

Uhhh sakit tenggorokanku. Menahan pilu. Betapa ia rindu sekali ketemu bapak. Padahal ia tak pernah sekalipun melihatnya. Rindu yang sama seperti aku. Juga kakakku.

Lalu aku peluk dia. Kami sama-sama menangis. Sambil memandang foto ayahku yang terpajang dikamar.

Waktu terus berganti. Saat aku menikmati indahnya masa kuliah, seorang bapak tua hadir. Beliau adalah ayah temanku. Kami sering bertemu dimasjid saat magrib. Ia seorang lelaki tua yang soleh. Tak pernah terlambat shalat berjamaah.

Sebetulnya perhatian dia sangatlah sederhana. Setiap habis shalat magrib ia selalu menghampiriku. Menanyakan kabar kuliah sambil memelukku, menasehati dan mendoaiku. Mungkin baginya itu tak ada artinya. Tapi tidak bagiku. Seumur hidup aku belum pernah menemui seseorang sebegitu perhatiannya. Dan itu ia lalukan hampir setiap hari.

Pernah suatu magrib aku tengah berdoa sambil menangis. Aku tak sadar kalo ia memperhatikanku. Lalu ia datang. Tangan kanannya menepuk-nepuk pundakku. Seakan ia ingin berkata, sabarlah, bertahanlah.

Aku merasakan sosok yang hilang itu dalam kasih sayangnya. Meski hanya sedikit. Hanya setiap magrib. Mungkin ia tak pernah tahu, dan memang takkan pernah tahu. Sebab dua bulan yang lalu ia telah berpulang, sama seperti ayahku.

Aku tertegun. Seakan kehilangan seorang ayah. Hari ini tak ada lagi yang menanyai kabarku sambil memeluk dan mendoakanku. Mungkin hari ini giliranku untuk mendoakannya. Semoga bahagia disana, bersama ayahku.

7 thoughts on “Setetes Figur Yang Hilang

  1. Wihh q jd ikut sedih kang,,, barusan q bru aja denger kabar klo bsok edC gk jd ke solo coz kakeknya k’den telah berpulang ke Rahmatullah,, yg sabar ya kang setiap pertemuan pst berakhir dgn perpisahan,, dan inilah yg trjadi dgn kakek antum, semoga Alloh membalas smua amalan kebaikan beliau serta menghapuskn sgl dosa beliau,,, dan bagi keluarga yg ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan keikhlasan… Amiin.

  2. Amin…smoga Allah memberikan kedudukan yg mulia bagi keduanya…

    Hiks…hiks…sedih…mengharukan…memang figur seorg ayah sgt-lah dirindukn oleh semua anak…

    Tapi..meski kang aden dah ga punya ayah…tetep smangat ya…kHan Now dah jdi ayaH…tul ga ???hehehee…

    oke..oKE..:-)

  3. To Adam :
    Thanks for u support, I always keep fight for everything in my life. Couse this life its just a journey, so I want make it enjoyable

  4. amin ya Allah.. amin.. amin.. ya Rabbal’alamin..
    kangg…huuuu…jadi nangis nih bacanya… inget papah yang juga udah gak ada..
    tapi saya harus lebih bersyukur lagi nih.. sebab bisa lebih lama ngrasain yang namanya punga papah..
    beliau pergi waktu saya 5tahun..

    kang aden yang semangat yahh..
    haruss.. selalu…

  5. Bertemu pasti untuk berpisah yach aden…,yudha baru kehilangan teman,figur buat yudha tadi pagi dapat kabar telah meninggal kan dunia yg fana ini…;[

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s