sweepball-1

STRANGE GAME EPISODE II

sweepball-1Belum kawan, itu belum seberapa. Masih ada satu lagi yang sama gilanya dengan permainan diatas. Yang bisa membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Menganggapku orang sinting. Orang autis, yang hidup tentram dengan dunianya sendiri.

Tapi tidak bagi Eggie. Satu makhluk yang Allah turunkan kedalam hidupku, setia menjadi sahabatku. Meski ia tahu sahabatnya itu punya kelainan hidup. Ia justru mengacungkan jempol, memujiku sebagai a Man with High Imagination. Oh Eggie, kau memang sahabatku.

Tahun 1994, waktu itu bulan juni. Indonesia sedang demam Thomas & Uber Cup. Begitupun aku. Sejak kecil aku memang penggila bulu tangkis dan tennis. Dua olahraga ini mampu membuatku betah berjam-jam didepan teve. Untuk bulu tangkis, aku sering memainkannya bersama teman-teman. Kalo tidak ada lapangan, maka nenekku dengan setia meladeni permainanku dipinggir rumah. Bukan dengan raket. Tapi triplek yang disulap jadi raket-raketan, atau piring seng. Jadilah sebuah olahraga yang disebut Tok Tak.

Tapi untuk tennis, sumpah mati aku belum pernah memainkan olahraga ini. Sampai sekarang. Dulu mana bisa aku main tennis. Olahraga ini hanya untuk kalangan berduit. Raketnya saja seharga teve 21 inci. Sementara dirumahku tevenya 14 inci. Itupun kredit di Columbia.

Tapi jangan salah, untuk seluk beluk dunia tennis aku selalu mengikuti perkembangannya.

Indonesia bersorak sorai. Karena tahun itu Susi cs bisa mengandengkan piala Thomas dengan Ubernya. Euphoria ini seperti menjentikkan saluran saraf otakku. Otakku yang kadang-kadang sarap. Kondisipun sangat memungkinkan. Karena saat itu aku sedang liburan panjang sekali, peralihan dari SMPN 29 ke SMUN 12 Bandung. Liburan yang menjemukan, tanpa teman karena memang aku tergolong anti social (Itu kata temanku, Indra). Maka entah karena apa, dan bagaimana prosesnya. Tiba-tiba aku telah menciptakan sebuah permainan yang unik. Permainan yang bisa menandingi dunia perfilmanku. Dua permainan yang seiring sejalan. Menyita waktuku selama 3 tahun di SMA.

Hadirlah nama baru dalam daftar aktivitasku, SWEEP BALL. Olahraga jari, dengan lapangan seukuran ½ meja belajar. Dengan teknik permainan yang aku karang sendiri. Dengan berbagai event pertandingan setiap tahunnya. Tour dari satu negara ke negara lainnya. Dengan nama-nama yang muncul sebagai perwakilan masing-masing Negara. Dan dengan hitungan rumit untuk menentukan 20 besar pemain top dunia. Mens and Womens. Semua terangkai dalam satu organisasi dunia bernama ISF (International Sweepball Federation).

Sweepball adalah permainan yang mudah. Lapangan terbagi menjadi dua kotak persegi panjang. Masing-masing kotak terpisah sekira 10 cm. Dalam satu kotak terdapat satu titik, sebagai tanda serve, kemudian kotak itu dibelah dua oleh garis persis garis tengah lapangan badminton atau tennis. Untuk memainkannya anda tinggal menyimpan sebuah kancing dititik kotak kanan, untuk kemudian ditendang oleh telunjuk kanan. Kancing itu harus masuk kekotak kiri dengan sempurna. Kemudian telunjuk kiri mengembalikan bola dengan sama ditendang juga alias disapu, untuk masuk kekotak lawan. Sapu sana sapu sini, makanya dinamakan Sweepball alias bola sapu. Pukulan lob artinya dari belakang ke belakang kotak lawan. Sapu menyilang, sapu pendek saja, begitulah seterusnya. Mataku awas, lirik kanan lirik kiri mengikuti gerak kancing. Kedua telunjukku lihai memainkan penyapuan tingkat tinggi. Jika kancing tidak memasuki kotak lawan artinya ia kalah, dan point untuk lawan. Perhitungan pointnya adalah 5 lalu 12, 21, 32, 45, 60 dan 77. Berarti 7 poin yang harus didapatkan untuk memenangkan satu set pertandingan.

Sweepball telah menjadi mainanku selama empat tahun. Dari tahun 1994 sampai 1998. Dalam satu tahunnya agenda kejuaraan telah ditetapkan oleh ISF di bulan januari. Biasanya mengawali tahun baru, ada kejuaraan bergengsi yakni LUCAS. Kejuaraan ini digelar di kota Madrid, Spanyol. Sebanyak 64 besar top dunia biasanya memanfaatkan kejuaraan ini untuk meraih poin peringkat dunia. Lucas termasuk dalam jajaran kejuaraan berkelas Grandclass, semacam grandslam kalo dalam tennis. Kejuaraan berkelas Grandclass lainnya antara lain French Open, Indonesia Open, dan US open. Tiap bulan minimal digelar satu kejuaraan, baik yang Grandclass atau biasa. Dan tiap bulan juga ISF mengeluarkan peringkat dunia, dihitung dari keberhasilan masing-masing pemain disetiap event kejuaraan.

Kalo aku inget sekarang, betapa uletnya aku meladeni permainanku ini. Bayangkan satu kejuaraan biasanya membutuhkan satu bahkan dua minggu untuk menghasilkan babak final. Pertandingan dengan system gugur ini aku kerjakan satu satu, babak demi babak. Dengan menjunjung tinggi sportifitas dan keadilan. Apalagi yang namanya Grandclass, sempat sampai diikuti 128 pemain. Berarti babak pertama saja ada 64 pertandingan. Itu yang putra, belum yang putri. Wuiihhh.. hebat kali kau Den.

Tapi semua terbayar, saat aku masuk babak final. Babak penentuan siapakah yang akan jadi juara. Dan entah kenapa, rata-rata yang masuk final adalah nama pemain-pemain papan atas. Apakah ada subjektifitas? Padahal aku telah bersusah payah untuk sportif. Yang main kan aku sendiri, dua telunjukku. Trus entah sadar atau dialam bawah sadar, nama seperti Mardiana tandean (Indonesia), So Hee Yung (Korea), Magdara (Prancis) untuk putri, kemudian Jackie A. Erricson (US), Kaparov (Russia) atau Taksehi Oukinawa (Japan) selalu meraih kemenangan dan bergiliran masuk final.

Itulah sweepballku, mengisi hari-hariku yang sepi, tanpa kawan. Temanku hanya ada disekolah, itupun cuma dikelasku. Dan itupun cuma Salman yang dekat dan bersedia jadi sahabatku. How poor I am..

Aku ibarat membuat sebuah lorong, dari rumah ke sekolah, kemudian pulang sekolah kembali kerumah. Berangkat jam ½ 5 subuh karena mengejar kereta ekonomi bernama KRD jam 5.15. lalu pulang jam 12.30 sambil berlarian ke stasion Kiaracondong untuk bisa naik kereta KRD jam 1 siang. Lalu tiba dirumah, dan mendekam dikamar. Bersatu dengan duniaku, bersatu dengan perfilman dan sweepballku. Jika ada orang yang mencariku maka mama pasti bilang

“Tuh lagi main kancing dikamar..”

4 thoughts on “STRANGE GAME EPISODE II

  1. autis!

    eits! jgn salah tanggep dulu…
    maksudnya ke saya lohh… coz temen2 saya suka ngatain saya autis gitu.. hehe.. tau becanda.. tau beneran… *astaghfirullahhhh…
    n_n’

    keren lah kang aden!
    syp tau beneran bisa masuk Sea Games.. setidaknya.. PON lah… heu2… amin!
    n_n’

  2. Permainan yang unik,bisa jadi profesor atuh kang,dah nemuin permainan baru,salut.oh iya kang,makasih.yudha dah tau profil kang den,kang bales message aku ke e mail:soda_pelangi88@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s