
Mulai 13 hingga 22 Agustus ini anda bisa mendowload secara gratis single nasyid terbaru dari Fika Mupla berjudul DOA QALBU.
Silahkan klik link dibawah ini:

Mulai 13 hingga 22 Agustus ini anda bisa mendowload secara gratis single nasyid terbaru dari Fika Mupla berjudul DOA QALBU.
Silahkan klik link dibawah ini:


Irfan mendongeng lagi. Ketika dia jadi panitia ospek ITB jurusan geodesi dulu, ada kejadian seorang mahasiswa baru kesurupan. Saat itu ospek lagi diadakan di daerah gunung Tangkuban Perahu. Bukan sekali dua kali anak itu kerasukan jin. Tapi berkali-kali. Yang lain nggak kena, Cuma dia seorang yang kemasukan. Dan jin yang masuk itu itu juga.
Kemasukan pertama membuat sebagian panitia kelimpungan. Ada yang takut, ada juga yang nggak percaya. Satu kali, dua kali, tiga kali dan seterusnya, sepanjang ospek berjalan. Karena keseringan, irfan dkk jadi menguasai kondisi gejala awal dia bakal kerasukan, bagaimana reaksi saat sedang online dan seperti apa kondisi saat pemulihan.
Akhirnya saking kecapean ngurusin satu anak ini, mereka mengajak ngobrol si jin waktu sedang online. Menurut pengakuannya, ia adalah seorang anak kecil asal jakarta. Ia meninggal dalam kecelakaan pesawat yang jatuh disekitar pegunungan situ bersama ibunya. Rencananya anak itu mau ke Bandung untuk berenang. Makanya setiap kesurupan, mahasiswa ini selalu mengajak panitia untuk berenang dan mencari area yang banyak airnya.
Satu kali dia pulih dari kerasukannya. Gejala pulih biasanya badan dia melemas, seperti pingsan. Bangun lalu minta air minum. Dikasih lah botol air minum. Dan dalalm sekejap kilat botol itu dilempar kemuka salah seorang panitia, sampai2 mukanya rada benjol. Lalu dia bilang
“Kalian ketipu haha…” dia ngakak abis. Ternyata jin bisa ngerjain juga ya, mantap dah.
Nah pulih pulihnya itu pas malam hari mahasiswa tersebut diajak panitia ke tepi sungai. Saat itu dia dalam keadaan normal.
“Nanti kalo si anak itu muncul kamu bilang ya sama kita-kita” ujar panitia. Dia ngangguk.
Beberapa saat kemudian dia lalu bilang
“Kang kang, itu dia muncul diseberang sungai sana”
Biasanya kalo si anak itu muncul maka lambat laun jin itu mendekati dan masuk ketubuhnya.
“Kamu pelototin dia” perintah panitia
“Kamu teriak, bilang: aku nggak takut sama kamu”
“Aku nggak takut sama kamu!!!” teriaknya
Panitia terus memerintahnya untuk mengata-ngatai seseorang nun disebrang sungai sana, yang hanya terlihat oleh mahasiswa naas itu.
Beberapa saat kemudian panitia melihat reaksi dia, ternyata masih normal. Berhasil!! Dia nggak kerasukan lagi. Semua bersorak sorai. Salah satu panitia lalu bertanya
“Eh sekarang dia lagi ngapain disana?”
“Lagi nangis kang” jawabnya
Nah sejak malam itulah si mahasiwa tadi tak kesurupan lagi. Pinter juga tuh panitia. Nggak salah lah masuk ITB.
Masa kuliah dulu ada cerita konyol lagi dari sergio alias Eggie. Habis jumatan aku sama dia pergi cari makan siang didaerah kompleks perumahan kami. Bertemulah dengan rumah makan chines food bernama Braling. Karena kami belum pernah makan masakan cina, dengan membawa uang dua puluh ribu kami pun masuk. Memesan satu porsi fuyunghai dan sayuran apa gitu, lupa soalnya. Meski tak ada daftar harga yang terpampang, kami pede melahap makanan tersebut. Paling Cuma 15 ribuan lah.
Ternyata 30 ribuan. Gubrakk. Aku sama Eggie saling pandang.
“Bawa uang lagi ga?” tanyaku. Eggie menggeleng.
Tanpa berpikir panjang Eggie langsung bilang sama tukang kasir
“Maaf pak, uangnya ga cukup. Saya boleh pulang dulu ya, ambil uang. Sebagai jaminannya ini saya serahkan teman saya disini”
Kutu kupret. Gw jadi jaminan. Bodohnya aku mengiyakan lagi. Pergilah dia kerumahnya yang cukup jauh dari Braling, dengan mengendarai sepeda butut. Aku ditinggal sendiri didepan kasir, berdiri tak bergeming seperti siswa yang disetrap.
“Pak itu sisanya bisa dibungkus ga?” tanyaku basa basi. Sumpah, itu basa basi yang memalukan. Masa fuyunghai yang tinggal ¼ minta dibungkus. Sudah mah kurang duit, minta dibungkus lagi. Miskin amat sih kalian.
Si Eggie, entah disengaja atau tidak, hampir setengah jam baru datang lagi. Kebayang aku dijadikan tumbal 30 menit, diliatin seluruh pegawai Braling dan pengunjung rumah makan. Itu anak ngapain berdiri terus di depan kasir. Pasti duitnya kurang. Sekiranya Eggie nggak datang lagi, aku pasti disuruh cuci piring sebagai gantinya. Kalau bener dia nggak datang, habis dah tu anak gw ulek-ulek.
Setelah kejadian itu aku trauma datang ke Braling lagi. Cukup itu yang pertama dan terakhir.