PRODUSERI FIKA

July 29, 2009

Kerja dibelakang layar ternyata nikmat juga ya. Lima tahun sudah aku terlibat dalam berbagai proyek penggarapan album religi, meski terbilang indie label. Mulai dari penggarapan Album 1 & 2 Edcoustic, Album 1 & Repackage Tashiru, sampai dua album kompilasi MQFM yang menaikkan pamor Haris lewat KEIMANAN-nya.

Berbekal pengalaman tersebut, tahun ini aku beranikan diri menjajal profesi sebagai seorang Produser. Melalui agensi yang aku dirikan sendiri, bernama ADEN AGENCY (Haha.. narsis abis… tetep). Dan proyek pertamanya adalah memproduseri FIKA MUPLA, salah satu personil grup accapella MUPLA asal Bandung. Proyek ini belum sampai pada penggarapan album, melainkan single saja, untuk meramaikan ranah pernasyidan dibulan puasa mendatang.

Menjadi seorang produser pasti dipikirnya adalah orang yang punya duit, betul? Salah teman, produser itu ditunjuk oleh yang punya duit untuk mengelola produksi album atau single seorang artis. Dia berperan sebagai pembentuk brand image si artis, mulai dari style fisik sampai pada karakter musiknya. Dia pula yang menentukan lagu apa yang bakal direkam, mana lagu jagoannya dan siapa aranger musik yang menggarap. Membuat jadwal latihan pra rekam, menentukan studio mana yang akan dipake untuk rekaman, sampe lagunya betul-betul udah dalam bentuk CD master. Nah yang punya duit alias si eksekutif produsernya cuma ngawasin dan nerima jadi itu master. Beres.

Single yang dinyanyikan Fika adalah DOA QALBU. Lagu ini ciptaanku sendiri, yang kebetulan dikontrak sama Fika dua bulan sebelum aku bergabung di Publishing RPM, salah satu agensi pencipta lagu di Indonesia. Beruntung banget lah, soalnya kalo sekarang, orang yang pengen laguku harus berurusan dengan RPM. Jadi rada birokratif dikit. Huh sok banget sih gua.

Doa Qalbu lagunya bergenre pop melayu. Musiknya pop, suaranya melayu hehe.. Soalnya setelah aku pelajari, karakter vokal Fika itu perpaduan antara Vidi Aldiano sama Chalie ST12, kebayang ga? Suaranya lembut, cengkokannya keriting. Aha!! Dikit-dikit mirip Ridho Roma lah haha.. tapi nggak dangdut pisan Fika mah.

Semingguan aku cari-cari lagu yang pas buat dia, alhamdulillah ketemu. Jarang-jarang lho aku bikin lagu bergenre melayuan. Awalnya Fika kurang nyaman sama genre ini, tapi aku yakinin ke dia, kalo pengen menonjol harus beda sama yang lain. Nasyid sekarang kan didominasi genre pop, nah mau ngekor trend, apa jadi trendsetter? Akhirnya diambillah jalan tengah, musik tetep ngepop, vokal metal (melayu total). Dengan melibatkan Kang Rony Rahmat sebagai aranger musiknya, Doa Qalbu akhirnya diputuskan jadi hit single. Kenapa milih Kang Rony? Soalnya beliau memang cocok buat lagu-lagu melankolis kayak gini. Muhasabah Cinta buktinya.

Sebetulnya tugas produser hanya sampe master jadi. Cuma di Aden Agency, kita punya layanan purna jual. Yakni jasa promo dan artist agency. Kita bantu untuk melakukan kegiatan promo album/single sang artis, baik dimedia elektronik, cetak maupun online. Nah servis tambahannya si artis udah include sebagai talent di artist agency.

Proyek single Fika Mupla bakal menjadi pertaruhan kemampuanku sebagai produser. Aku berharap Fika bisa diterima luas disemua lapisan kalangan. Kalau sukses, Aden Agency kan bisa lebih leluasa menerima artis-artis lain untuk digarap dan diorbitkan. Bulan ini Fika, mungkin bulan depan adalah kalian. Bisa jadi kan. Tapi kalo pahit-pahitnya kagak laku, ya tetep dong berjuang. Wong Thomas A Edison juga gagal ribuan kali dulu, sebelum sukses nemuin lampu. Betul gak?


THE TARIX JABRIX 2 : FILM GARING

July 12, 2009

Setahun yang lalu aku nonton The Tarix Jabrig dan langsung mengacungkan jempol. Solanya sudah membuat aku ketawa abis. Penasaran dengan sequelnya, kemarin aku sama temen2 nonton di Braga City Walk Bandung. Jujur, aku bilang itu film garing. Bodornya maksa, ceritanya juga maksa. Wah, bener-bener kecewa euy.. kalo nggak inget temen, aku sudah pengen keluar bioskop ditengah cerita.

Bukannya under istimate sama film Indonesia, sama sekali enggak. Buktinya aku tetep acungkan jempol tangan dan kaki sama film “Garuda Didadaku”. Filmnya berkualitas, ceritanya inspirasional. Tidak semua film kita itu jelek. Tapi boleh dibilang Tarix Jabrig 2 termasuk jajaran yang nggak recommended untuk ditonton. That’s my opinion oke cuy… pro atau kontra aku nggak ikutan ah hehe… pis


TERSISA SATU SEPATU LAGI

July 10, 2009

2381937942_17d48fc900_mKalau cerita tentang sepatu warior diatas, itu sudah belasan tahun yang lalu. Tapi kalo soal sepatu yang ini, baru sekitar 3 tahun yang lalu. Sepatu milik Eggie yang sama bobroknya juga, cuma ini lebih memalukan, karena sepatu satu-satunya yang dipakai tampil. Sepatu model begini tidak bisa dikatakan sepatu resmi, juga tidak bisa dikategorikan sepatu trendi. Dari modelnya aja tidak terdaftar dikategori apapun, tapi beruntungnya ia bisa dibawa kemana-mana, dari panggung kepanggung. Entah orang memperhatikan atau tidak, tapi buat aku dan tim manajemen, sepatu itu selalu menjadi bahan tertawaan. Nasibmu gie gie..

Suatu malam seluruh personil dan pemain band edcoustic ngumpul dan tidur bareng dibasecamp yang saat itu masih berada di kompleks Sarijadi Bandung. Menurut rencana, esok harinya akan berangkat ke Jakarta untuk sebuah show. Pagi harinya kita semua kaget, karena seluruh sepatu yang berada diluar pintu pada hilang dicuri orang. Tinggal satu pasang sepatu lagi yang tersisa didepan pintu. Sepatunya Eggie.

“Kok sepatuku nggak ikut diambil ya?” celetuk eggie

Kontan semua pada ketawa. Yang nyuri juga pilih pilih kali. Mana mau ngambil sepatu udah uzur gitu. Disaat beberapa orang sedih karena sepatu kesayangannya hilang, tapi dengan melihat sepasang sepatu yang teronggok rapi didepan pintu, semua pada lupa sama sepatu mereka yang raib.

Dengan geram eggie langsung bersumpah serapah. Kurang ajar itu pencuri, sudah menurunkan harkat martabatku. Awas ya, satu saat nanti aku pasti punya sepatu yang paling kamu uber-uber.

Dia memang makhluk aneh. Manusia satu-satunya didunia, yang marah gara-gara sepatunya nggak dicuri. Nasibmu gie.. gie..


SEPATU WARIOR

July 8, 2009

2957170632_6862f07622_oNenekku bangga & terharu dengan keterlibatanku di Ost Ketika Cinta Bertasbih. Beliau sempat menitikkan air mata saat bertemu denganku. Kemudian mengenang kembali perjuanganku dulu saat bersusah payah bersekolah.

Yang selalu ia kenang adalah sepatu warior. Lucu rasanya jika mengingat sepatuku itu. Entah anak SMA jaman sekarang apa masih diwajibkan menggunakan sepatu warior atau enggak. Tahun 90an pastinya sepatu jenis ini diburu anak-anak sekolahan. Tak terkecuali aku.

Kelas tiga SMA mama sedang tidak mampu beli sepatu warior, jadi aku menggunakan sepatu yang sudah uzur, dibeli saat kelas satu. Sepatunya sudah rusak parah. Alas bawah sepatu  tampak tipis sekali, jadi kalo naik bis damri kerasa sekali panasnya lantai bis. Bagian depan yang berwarna putih sudah robek, ditambah kaos kakinya juga bolong pas bagian jempolnya. Kalo aku jongkok, si yang putihnya membuka, memamerkan kaos kaki bolong heu.. jadi aku siasati dengan memplester bagian putihnya itu dengan tensoplas. Jadilah sepatu cedera. Karena plesternya tidak tahan lama, maka aku rajin 3 hari sekali beli plester. Ganti copot, ganti copot. Begitulah, betapa cintanya aku sama warior itu.

Sudah berapa kali aku meminta sama mama untuk mengalokasikan dana buatku mengganti sepatu. Tapi waktu itu keadaan sangat sulit. Mama harus banting tulang menyekolahkan keempat anaknya dengan tangan sendiri. Sementara nenekku tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa berkata, sabar ya.. setiap pagi saat aku mengikat sepatu, aku sering melihat nenek memandangiku. Dan aku membalasnya dengan senyum penuh semangat, semangat bersekolah.

Sebenarnya aku malu dengan wariorku. Dikelas tak ada yang bersepatu kumal dan berplester seperti ini. Saban hari kerjaannya suka memperhatikan sepatu orang lain. Si itu pake North Star, si ini wariornya baru lagi. Kalo naik angkot, kakiku selalu diselondorkan kedalam bangku, biar orang nggak bisa lihat. Distasiun kereta, mataku sudah refleks memperhatikan berbagai macam pasang sepatu orang. Pokoknya saat itu aku seperti orang yang kena syndrome sepatu.

Kalau sudah musim hujan, aku harus ganti kaos kaki tiap hari. Soalnya sang warior tak mampu lagi melindungi kaki dari becek. Plesterpun harus ganti tiap hari. Mana jarak kesekolah juga berkilo-kilo meter. Harus menempuhnya dengan kereta api atau bis. Sampai pada akhirnya satu siang ketika pulang sekolah, sepatuku sudah tak berwujud lagi. Kena lumpur gara-gara kecipratan mobil truk.  Tak hanya sepatu, baju dan celanapun tak luput dari lumpur. Pulang-pulang aku disambut kekesalan nenek, ia marah pada dirinya sendiri lantaran tak bisa membelikan sepatu baru. Sambil menangis ia membanting sepatuku ketempat sampah. Berakhirlah sudah riwayatnya, terlantar diantara gundukan sampah.

Malamnya aku kebingungan, besok sekolah pake apa. Masa pake sandal. Mau ngambil lagi ditempat sampah juga takut sama nenek. Untungnya mama pulang kerja bawa sepatu, pas dilihat ternyata sepatu bekas. Mereknya Dans. Kata mama ini pemberian temennya yang sudah tidak terpakai lagi oleh anaknya. Alhamdulillah, lebih baik lah dibanding yang lama, meski aku harus lecet-lecet selama satu bulan, karena kesempitan.


ME, EVAN & EGGIE

July 1, 2009

tiga