SURAT CINTA

October 8, 2008

Barangkali aku termasuk salah satu laki-laki yang beruntung didunia ini. Pernah merasakan yang namanya ditolak cinta satu kali, menolak cinta satu kali, ditolak lamaran nikah satu kali, menolak lamaran nikah satu kali, pacaran satu kali, dan nikah juga (baru) satu kali. Kedengarannya indah bukan. Itulah scenario dahsyat dari Yang Diatas, untuk hidupku.

Surat cintaku yang pertama. Terjadi saat aku kelas dua SMP. Aku terpanah asmara oleh seorang gadis cantik berkulit hitam manis. Matanya belo, pipinya kempot. Kalo tersenyum, aku bisa jatuh pingsan ditengah jalan. Dialah adik kelasku, berinisial “E”. Rumahnya beda beberapa gang dari kediamanku di Sarijadi. Sebelum aku mengirimi ia surat, aku terlebih dahulu memberanikan diri untuk menyatakan langsung padanya, pada sebuah jam istirahat.

“Sok atuh mau ngomong apa..” ujarnya sedikit kesal

“Hmm.. eh.. ah… itu… anu.. euhhhh” ya itu hampir 15 menit aku cuma bisa ah eh oh saja. Ternyata menyatakan cinta itu tak semudah menyanyi. Butuh pemanasan lebih dan kesiapan mental. Akhirnya bel berbunyi, dan ia minta pamit untuk masuk kelas. Dan aku hanya bisa berdiri kaku seperti orang dungu.

Hari berikutnya aku putuskan untuk mengirimkan surat padanya. Surat yang aku tulis disecarik kertas khusus surat menyurat. Kertasnya berwarna penuh hiasan, dan wangi pula. Lalu aku selipkan disebuah amplop yang didesain sama seperti kertasnya. Wah lega, akhirnya aku bisa menyatakan cinta pada seorang wanita. Meskipun masih kurang gentle. Lewat sebuah surat.

Ternyata aku masih belum lega. Nyatanya justru aku semakin deg degan. Apa ia menerima cintaku? Apa ia akan menolak laki-laki seunik aku?

Dan selanjutnya adalah hari-hari mencemaskan sedunia. Menunggu kabar dari si dia, entah itu langsung atau via surat juga.

Hari itu datang. Sepucuk surat dari E untukku. Surat itu ia titipkan ke Yudi, temanku. Aku senang sekaligus cemas. Suratnya sama juga ditulis dari secarik kertas surat menyurat, dengan desain yang berbeda, lebih feminim. Aku minta Yudi membacakannya untukku. Kamipun jongkok berdua disebuah sudut lapangan voli, depan masjid. Meski aku pasrah apapun yang akan dikatakannya, tapi aku tetap berharap besar ia menerima cintaku. Dan menjadi pacar pertamaku.

Kata demi kata Yudi ucapkan. Kalimat per kalimat. Paragraph demi paragraph, bagaikan tusukan pedang yang menghujam-hujam dadaku. Sakiiiiiiiiiiiiiit sekali. Dunia seakan gelap. Lapangan voli jadi sepi. Matahari cepat-cepat menenggelamkan diri. Sulit sekali aku menelan ludah, walau itu seteguk. Dan yang paling menyebalkan, adalah Yudi. Dia menepuk-nepuk pundakku, wajahnya membentuk ekspresi penuh iba. Aku tak suka melihat orang meng-iba-iku. Aku benar-benar benci.

Ya Tuhan. Dia menolak cintaku. Rasanya aku ingin berlari kesebuah pantai sepi. Bergelut dengan pasir putih. Dan berteriak sejadi-jadinya. Rasanya aku juga ingin jadi bintang film, berakting sehebat-hebatnya. Jadi anggota Trio Libels, menyanyi segaya-gayanya. Pokoknya aku ingin keluar dari diriku ini. Bersemayam jadi orang lain. Karena aku belum siap menanggung malu, dan pergi kesekolah besok pagi.

Kamu tahu, suratnya itu masih aku simpan dengan baik. Dalam sebuah kotak keramat. Sampai sekarang. Sekira 16 tahun kemudian.

Berikutnya. Dalam sebuah episode SMA-ku. Seorang gadis mengirimi aku surat. Gadis ini juga berinisial “E”. Tubuhnya tambun, wajahnya bulat. Ia adalah salah seorang siswi SMK swasta di Bandung, yang bernasib sama denganku. Sebagai anak kereta. Yang kerjaannya naik turun kereta, memadati kota Bandung disiang hari untuk sekolah. Karena kami kaum urban.

Aku tidak mengenalnya, meski menurutnya ia selalu memperhatikanku. Disela-sela gerbong kereta KRD yang sesak padat. Disela-sela menunggu kereta yang sering terlambat di stasiun.

Surat itu datang tiba-tiba menghampiriku. Disaat aku masih trauma dengan yang namanya surat. Dan apapun yang berbau surat wangi. Surat itu berlembar-lembar isinya. Ia menuliskan segala kegundahan cintanya padaku. Memujiku. Dan mengatakan kalo aku berbeda dengan laki-laki lainnya. Jelas berbeda neng, wong aku selalu sendirian di stasiun. Ga punya teman anak kereta. Kurang gaul. Jarang bicara. Pantas saja tidak ada yang mau kenalan.

Tak lupa ia selipkan sebuah foto close upnya. Agar ia mengenaliku. Oh yang ini, ujarku.

Beberapa hari aku tidak membalas suratnya. Setiap ketemu di stasiun, ia selalu memalingkan muka. Mencari jalan agar menghindar dariku. Padahal aku tidak berbuat apa-apa. Hanya duduk, kemudian membaca atau melamun. Lalu kereta datang, dan aku bergelantungan seperti lainnya, mencari celah yang lebih aman untuk berdiri dan siaga dari tukang copet.

Suatu hari ia kemudian mengirimkan surat lagi. Menanyakan alas an kenapa suratnya tidak dibalas. Lalu ia pun menceritakan banyak hal tentang dirinya dan kejadian “Gegencetan” yang ia alami. Kamu tahu apa itu “Gegencetan”? itu bahasa wanita. Gegencetan adalah tindakan represif sekelompok wanita terhadap seorang wanita yang menurut mereka kurang ajar, kurang sopan dan patut ditindak. Bisa berupa omongan-omongan saja, bisa ditampar, bisa pula dijenggut dan diajak berantem. Untungnya dia baru sebatas diomelin, oleh sekelompok wanita, anak kereta juga. Intinya adalah jauhi si Deden. Dia milik saya.

Oooh man….. aku rasanya terbang. Terbang seperti seorang arjuna. Sambil mendongakkan wajah dari antrian para wanita yang siap mendaftar. Mereka memegang secarik formulir pendaftaran, dan menjerit histeris melihatku.

Kamu tahu rasanya diperebutkan banyak wanita? Indah sekali….

Dan aku kembali membaca suratnya. Dan terbang lagi. Baca, terbang. Terbang. Dan akhirnya tidur.

Beberapa hari berikutnya ia girang bukan kepalang. Karena aku membalas suratnya. Biarkan ia girang dulu. Karena selebihnya aku rasa ia akan seperti ayam sakit. Muyung. Tak mau pergi ke stasiun. Tak mau berpapasan denganku.

Sebab aku telah menolak cintanya.