STRANGE GAME

October 3, 2008

 

Sedikit orang yang tahu, kalo aku punya kebiasaan-kebiasaan aneh. Menciptakan permainan-permainan aneh. Saking anehnya aku sering menganggap diriku The Only One in The World. Karena mungkin cuma aku didunia ini yang membuat permainan aneh semacam itu. Permainan yang menemaniku bertahun-tahun. Menemani kesendirianku. Dan aku namakan STRANGE GAME. Sebuah nama yang akan selalu tertulis disetiap CV lamaran, biodata kampus, atau formulir pendaftaran apapun, yang tertera item HOBBY. Maka jika ada item hobi, aku isi dengan kalimat STRANGE GAME. Coba cek, mungkin kalian salah satu diantara panitia, HRD, atau tata usaha yang pernah menyimpan dataku.

 

Strange Game adalah sekumpulan permainan yang tercipta dari suatu ketidakmampuanku untuk memainkannya dalam kehidupan nyata. Sejak kecil aku sangat hobi menyanyi, sangat tergila-gila dengan program teve bernama ANEKA RIA SAFARI. Saking akutnya dengan kegilaanku terhadap acara itu maka aku buat sendiri program tandingan, dikamar. Dan sendirian. Lalu aku cuap-cuap layaknya presenter Aneka Ria Safari. Kemudian muncul satu lagu yang aku karang sendiri, kata-katanya asal keluar saja, yang penting meniru lagu apa saja yang sedang trend saat itu. Lagu kedua, entah lagu apa yang penting aku nyanyi dan nyanyi. Berekspresi layaknya orang dipanggung, memegang mic (padahal botol atau sisir), bergaya didepan kamera. Aku biasanya melihat artis-artis itu memandang kamera ditiga sudut panggung. Ditengah, dikanan dan dikiri. Lalu aku menirunya. Kemudian lagu keempat, kelima dan seterusnya, sampai aku lelah dan mengakhiri program teveku. Mungkin ini cikal bakal kenapa aku bisa mengarang sebuah lagu. Dari sebuah program teve bernama Aneka Ria Safari.

 

Itu waktu SD. Dan berakhir setelah aku menginjak SMP. Karena dimasa ini aku berganti permainan. Selain musik, aku juga tergila-gila dengan film, terutama program tahunan Festival Film Indonesia dan Academy Award. FFI 1992 adalah FFI terakhir yang aku tonton, karena setelah itu film Indonesia mati suri. Betapa sedihnya, aku tidak bisa lagi melihat keharuan para artis memegang piala citra yang ia raih. Piala bergengsi lambang supremasi perfilman negeri ini. Seperti saat aku melihat ekspresi Lidya Kandou yang terkejut waktu membaca kategori aktor terbaik 92,

“Lho kok… Jamal Mirdad”

Ekspresi itu disambut gelak tawa dan tepuk tangan dari audiens. Jamal Mirdad, untuk pertama kalinya meraih piala citra sebagai actor terbaik dalam film “Ramadan dan Ramona”. Film ini mempersembahkan banyak piala termasuk Lidya Kandao dan juga kategori tertinggi yakni film terbaik tahun itu. Jika ada soal film-film terbaik FFI era akhir 80an dalam sebuah ujian, maka aku jamin nilaiku bisa 100. Tahun 91 “Cinta Dalam Sepotong Roti”, 90 “Taksi”, 89 “Pacar Ketinggalan Kereta” dan seterusnya.

 

Tahun 1992 adalah awal karier permainan baruku, bernama dunia perfilman Indonesia. Satu buah buku tulis aku habiskan untuk mencatat judul-judul film buatanku, lengkap dengan synopsis cerita, nama sutradara dan para actor-aktrisnya. Dan diakhir tahun aku menyeleksi puluhan bahkan ratusan judul film untuk ditandingkan dalam sebuah event “Festival Film Indonesia”. Aku yang membuat kategorinya sendiri, diadopsi dari FFI & Academy Award sungguhan. Mulai dari scenario terbaik, aktris dan actor terbaik, aktris & actor pendukung terbaik, penata suara, penata gambar, penata busana, penata artistic, visual effect, penyutradaraan sampai pada kategori film terbaik. Setiap kategori aku pilih lima nominasi film, yang menurutku pantas untuk meraih piala citra. Pemilihannya sangatlah subjektif, karena jurinya cuma satu, ya aku. Setelah lengkap, maka aku menunggu hari yang telah ditentukan, biasanya satu hari pada bulan desember. Masa menunggu seperti itu adalah masa-masa yang indah buatku. Karena disekolah, diperjalanan pulang, dan juga dirumah aku seperti orang yang akan mendapat THR. Harap-harap cemas, menduga-duga siapa yang bakal meraih piala citra. Bagiku hari itu adalah momen penting, saat-saat bersejarah dalam hidupku.

 

Dan jika hari itu tiba maka aku akan membuat semacam perayaan dimeja belajarku. Ada umbul-umbul yang aku tulis dengan spidol, umbul-umbul yang terbuat dari kertas bertuliskan FFI 199.. kemudian terpampang semacam baligo kecil didepan meja belajar. Semua aku buat untuk memeriahkan suasana malam penganugerahan FFI yang hanya digelar olehku satu tahun sekali. Penyelenggaraannya pun malam hari, diterangi lampu duduk. Lalu didepanku tersedia tumpukan kertas berukuran kartu remi, setiap lembarnya adalah lima nominator dari satu kategori. Jumlah kertasnya tergantung dari jumlah kategori yang selalu berubah-ubah tiap tahunnya. Lalu disamping tumpukan kertas itu tersedia sebuah gelas yang ditutup kertas terikat karet gelang. Didalam gelas telah siap lima gulungan kertas bertuliskan satu, dua, tiga, empat dan lima. Dan jika waktunya tiba, maka genderang bertalu-talu tanda malam penganugerahan dimulai. Lalu dibacakanlah kategori beserta nominatornya, and the winner goes on…. Clok koclok aku mulai mengocok gelas layaknya orang sedang arisan. Keluarlah satu gulungan. Suasana cukup menegangkan. Kemudian perlahan-lahan aku membuka kertas itu.

“Nomor tiga!!”

 

Lalu aku lihat di kertas nominasi, pemenangnya adalah nominator urutan tiga. Horeee.. aku bertepuk tangan sendiri, menyambut kemenangan satu judul film yang meraih piala citra. Begitulah seterusnya. Kertas demi kertas, kocokan demi kocokan aku jalani dengan enjoy, penuh kegembiraan. Aku paling senang membacakan kategori actor & aktris terbaik. Soalnya piala citra bagi mereka berarti kelas mereka akan naik, menjadi artis film papan atas. Dan otomatis pendapatan mereka naik berlipat-lipat, serta dibanjiri tawaran main difilm-film box office tahun depan. Pembacaan actor & aktris terbaik biasanya disesi akhir acara, sebelum sutradara dan film terbaik. Setelah selesai membacakan sutradara terbaik, maka aku mulai berhitung. Film mana yang layak jadi film terbaik. Karena untuk kategori ini tidaklah dikocok seperti yang lain, tapi dihitung atas jumlah nominasi dan jumlah piala yang didapat. Jika selesai berhitung maka dengan bangga aku umumkan peraih supremasi tertinggi perfilman tahun itu.

“Film terbaik tahun ini adalah……………….”

Horeeeeeeeeee, maka aku bertepuk tangan lagi. Lebih lama. Dengan senyum yang mengembang. Bangga dan terharu. Bahagia dan puas. Karena acara ini terselenggara dengan lancar dan aman. Tanpa gangguan kakakku atau adikku.

 

Bulan januari adalah tahun baru. Berarti aku harus membeli buku tulis baru ke warung. Buku yang akan mencatat seluruh judul film dan ide ceritaku untuk tahun itu. Begitulah kehidupanku selama enam tahun. Terhitung sejak tahun 92 sampai 98. Semua arsip aku simpan rapi dan masih ada sampai sekarang. Satu tahun satu buku. Lengkap dengan setumpuk kertas berukuran remi disetiap bukunya. Betapa aku memandang hidupku waras-waras saja. Lurus dan tidak menyimpang. Bagiku, arsip perfilman itu adalah asset berharga yang mungkin bisa berguna kelak. Bayangkan jika satu tahun aku menyimpan 100 judul film, berarti ada 600an ide cerita yang aku miliki. Dan itu bisa aku gunakan untuk ide cerita novel yang sedang aku garap saat ini. Atau ide cerita naskah film atau sinetron. Karena beberapa tahun kedepan aku akan serius menjadi seorang penulis fiksi.


STRANGE GAME EPISODE II

October 3, 2008

sweepball-1Belum kawan, itu belum seberapa. Masih ada satu lagi yang sama gilanya dengan permainan diatas. Yang bisa membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Menganggapku orang sinting. Orang autis, yang hidup tentram dengan dunianya sendiri.

Tapi tidak bagi Eggie. Satu makhluk yang Allah turunkan kedalam hidupku, setia menjadi sahabatku. Meski ia tahu sahabatnya itu punya kelainan hidup. Ia justru mengacungkan jempol, memujiku sebagai a Man with High Imagination. Oh Eggie, kau memang sahabatku.

Tahun 1994, waktu itu bulan juni. Indonesia sedang demam Thomas & Uber Cup. Begitupun aku. Sejak kecil aku memang penggila bulu tangkis dan tennis. Dua olahraga ini mampu membuatku betah berjam-jam didepan teve. Untuk bulu tangkis, aku sering memainkannya bersama teman-teman. Kalo tidak ada lapangan, maka nenekku dengan setia meladeni permainanku dipinggir rumah. Bukan dengan raket. Tapi triplek yang disulap jadi raket-raketan, atau piring seng. Jadilah sebuah olahraga yang disebut Tok Tak.

Tapi untuk tennis, sumpah mati aku belum pernah memainkan olahraga ini. Sampai sekarang. Dulu mana bisa aku main tennis. Olahraga ini hanya untuk kalangan berduit. Raketnya saja seharga teve 21 inci. Sementara dirumahku tevenya 14 inci. Itupun kredit di Columbia.

Tapi jangan salah, untuk seluk beluk dunia tennis aku selalu mengikuti perkembangannya.

Indonesia bersorak sorai. Karena tahun itu Susi cs bisa mengandengkan piala Thomas dengan Ubernya. Euphoria ini seperti menjentikkan saluran saraf otakku. Otakku yang kadang-kadang sarap. Kondisipun sangat memungkinkan. Karena saat itu aku sedang liburan panjang sekali, peralihan dari SMPN 29 ke SMUN 12 Bandung. Liburan yang menjemukan, tanpa teman karena memang aku tergolong anti social (Itu kata temanku, Indra). Maka entah karena apa, dan bagaimana prosesnya. Tiba-tiba aku telah menciptakan sebuah permainan yang unik. Permainan yang bisa menandingi dunia perfilmanku. Dua permainan yang seiring sejalan. Menyita waktuku selama 3 tahun di SMA.

Hadirlah nama baru dalam daftar aktivitasku, SWEEP BALL. Olahraga jari, dengan lapangan seukuran ½ meja belajar. Dengan teknik permainan yang aku karang sendiri. Dengan berbagai event pertandingan setiap tahunnya. Tour dari satu negara ke negara lainnya. Dengan nama-nama yang muncul sebagai perwakilan masing-masing Negara. Dan dengan hitungan rumit untuk menentukan 20 besar pemain top dunia. Mens and Womens. Semua terangkai dalam satu organisasi dunia bernama ISF (International Sweepball Federation).

Sweepball adalah permainan yang mudah. Lapangan terbagi menjadi dua kotak persegi panjang. Masing-masing kotak terpisah sekira 10 cm. Dalam satu kotak terdapat satu titik, sebagai tanda serve, kemudian kotak itu dibelah dua oleh garis persis garis tengah lapangan badminton atau tennis. Untuk memainkannya anda tinggal menyimpan sebuah kancing dititik kotak kanan, untuk kemudian ditendang oleh telunjuk kanan. Kancing itu harus masuk kekotak kiri dengan sempurna. Kemudian telunjuk kiri mengembalikan bola dengan sama ditendang juga alias disapu, untuk masuk kekotak lawan. Sapu sana sapu sini, makanya dinamakan Sweepball alias bola sapu. Pukulan lob artinya dari belakang ke belakang kotak lawan. Sapu menyilang, sapu pendek saja, begitulah seterusnya. Mataku awas, lirik kanan lirik kiri mengikuti gerak kancing. Kedua telunjukku lihai memainkan penyapuan tingkat tinggi. Jika kancing tidak memasuki kotak lawan artinya ia kalah, dan point untuk lawan. Perhitungan pointnya adalah 5 lalu 12, 21, 32, 45, 60 dan 77. Berarti 7 poin yang harus didapatkan untuk memenangkan satu set pertandingan.

Sweepball telah menjadi mainanku selama empat tahun. Dari tahun 1994 sampai 1998. Dalam satu tahunnya agenda kejuaraan telah ditetapkan oleh ISF di bulan januari. Biasanya mengawali tahun baru, ada kejuaraan bergengsi yakni LUCAS. Kejuaraan ini digelar di kota Madrid, Spanyol. Sebanyak 64 besar top dunia biasanya memanfaatkan kejuaraan ini untuk meraih poin peringkat dunia. Lucas termasuk dalam jajaran kejuaraan berkelas Grandclass, semacam grandslam kalo dalam tennis. Kejuaraan berkelas Grandclass lainnya antara lain French Open, Indonesia Open, dan US open. Tiap bulan minimal digelar satu kejuaraan, baik yang Grandclass atau biasa. Dan tiap bulan juga ISF mengeluarkan peringkat dunia, dihitung dari keberhasilan masing-masing pemain disetiap event kejuaraan.

Kalo aku inget sekarang, betapa uletnya aku meladeni permainanku ini. Bayangkan satu kejuaraan biasanya membutuhkan satu bahkan dua minggu untuk menghasilkan babak final. Pertandingan dengan system gugur ini aku kerjakan satu satu, babak demi babak. Dengan menjunjung tinggi sportifitas dan keadilan. Apalagi yang namanya Grandclass, sempat sampai diikuti 128 pemain. Berarti babak pertama saja ada 64 pertandingan. Itu yang putra, belum yang putri. Wuiihhh.. hebat kali kau Den.

Tapi semua terbayar, saat aku masuk babak final. Babak penentuan siapakah yang akan jadi juara. Dan entah kenapa, rata-rata yang masuk final adalah nama pemain-pemain papan atas. Apakah ada subjektifitas? Padahal aku telah bersusah payah untuk sportif. Yang main kan aku sendiri, dua telunjukku. Trus entah sadar atau dialam bawah sadar, nama seperti Mardiana tandean (Indonesia), So Hee Yung (Korea), Magdara (Prancis) untuk putri, kemudian Jackie A. Erricson (US), Kaparov (Russia) atau Taksehi Oukinawa (Japan) selalu meraih kemenangan dan bergiliran masuk final.

Itulah sweepballku, mengisi hari-hariku yang sepi, tanpa kawan. Temanku hanya ada disekolah, itupun cuma dikelasku. Dan itupun cuma Salman yang dekat dan bersedia jadi sahabatku. How poor I am..

Aku ibarat membuat sebuah lorong, dari rumah ke sekolah, kemudian pulang sekolah kembali kerumah. Berangkat jam ½ 5 subuh karena mengejar kereta ekonomi bernama KRD jam 5.15. lalu pulang jam 12.30 sambil berlarian ke stasion Kiaracondong untuk bisa naik kereta KRD jam 1 siang. Lalu tiba dirumah, dan mendekam dikamar. Bersatu dengan duniaku, bersatu dengan perfilman dan sweepballku. Jika ada orang yang mencariku maka mama pasti bilang

“Tuh lagi main kancing dikamar..”