Sedikit orang yang tahu, kalo aku punya kebiasaan-kebiasaan aneh. Menciptakan permainan-permainan aneh. Saking anehnya aku sering menganggap diriku The Only One in The World. Karena mungkin cuma aku didunia ini yang membuat permainan aneh semacam itu. Permainan yang menemaniku bertahun-tahun. Menemani kesendirianku. Dan aku namakan STRANGE GAME. Sebuah nama yang akan selalu tertulis disetiap CV lamaran, biodata kampus, atau formulir pendaftaran apapun, yang tertera item HOBBY. Maka jika ada item hobi, aku isi dengan kalimat STRANGE GAME. Coba cek, mungkin kalian salah satu diantara panitia, HRD, atau tata usaha yang pernah menyimpan dataku.
Strange Game adalah sekumpulan permainan yang tercipta dari suatu ketidakmampuanku untuk memainkannya dalam kehidupan nyata. Sejak kecil aku sangat hobi menyanyi, sangat tergila-gila dengan program teve bernama ANEKA RIA SAFARI. Saking akutnya dengan kegilaanku terhadap acara itu maka aku buat sendiri program tandingan, dikamar. Dan sendirian. Lalu aku cuap-cuap layaknya presenter Aneka Ria Safari. Kemudian muncul satu lagu yang aku karang sendiri, kata-katanya asal keluar saja, yang penting meniru lagu apa saja yang sedang trend saat itu. Lagu kedua, entah lagu apa yang penting aku nyanyi dan nyanyi. Berekspresi layaknya orang dipanggung, memegang mic (padahal botol atau sisir), bergaya didepan kamera. Aku biasanya melihat artis-artis itu memandang kamera ditiga sudut panggung. Ditengah, dikanan dan dikiri. Lalu aku menirunya. Kemudian lagu keempat, kelima dan seterusnya, sampai aku lelah dan mengakhiri program teveku. Mungkin ini cikal bakal kenapa aku bisa mengarang sebuah lagu. Dari sebuah program teve bernama Aneka Ria Safari.
Itu waktu SD. Dan berakhir setelah aku menginjak SMP. Karena dimasa ini aku berganti permainan. Selain musik, aku juga tergila-gila dengan film, terutama program tahunan Festival Film Indonesia dan Academy Award. FFI 1992 adalah FFI terakhir yang aku tonton, karena setelah itu film Indonesia mati suri. Betapa sedihnya, aku tidak bisa lagi melihat keharuan para artis memegang piala citra yang ia raih. Piala bergengsi lambang supremasi perfilman negeri ini. Seperti saat aku melihat ekspresi Lidya Kandou yang terkejut waktu membaca kategori aktor terbaik 92,
“Lho kok… Jamal Mirdad”
Ekspresi itu disambut gelak tawa dan tepuk tangan dari audiens. Jamal Mirdad, untuk pertama kalinya meraih piala citra sebagai actor terbaik dalam film “Ramadan dan Ramona”. Film ini mempersembahkan banyak piala termasuk Lidya Kandao dan juga kategori tertinggi yakni film terbaik tahun itu. Jika ada soal film-film terbaik FFI era akhir 80an dalam sebuah ujian, maka aku jamin nilaiku bisa 100. Tahun 91 “Cinta Dalam Sepotong Roti”, 90 “Taksi”, 89 “Pacar Ketinggalan Kereta” dan seterusnya.
Tahun 1992 adalah awal karier permainan baruku, bernama dunia perfilman Indonesia. Satu buah buku tulis aku habiskan untuk mencatat judul-judul film buatanku, lengkap dengan synopsis cerita, nama sutradara dan para actor-aktrisnya. Dan diakhir tahun aku menyeleksi puluhan bahkan ratusan judul film untuk ditandingkan dalam sebuah event “Festival Film Indonesia”. Aku yang membuat kategorinya sendiri, diadopsi dari FFI & Academy Award sungguhan. Mulai dari scenario terbaik, aktris dan actor terbaik, aktris & actor pendukung terbaik, penata suara, penata gambar, penata busana, penata artistic, visual effect, penyutradaraan sampai pada kategori film terbaik. Setiap kategori aku pilih lima nominasi film, yang menurutku pantas untuk meraih piala citra. Pemilihannya sangatlah subjektif, karena jurinya cuma satu, ya aku. Setelah lengkap, maka aku menunggu hari yang telah ditentukan, biasanya satu hari pada bulan desember. Masa menunggu seperti itu adalah masa-masa yang indah buatku. Karena disekolah, diperjalanan pulang, dan juga dirumah aku seperti orang yang akan mendapat THR. Harap-harap cemas, menduga-duga siapa yang bakal meraih piala citra. Bagiku hari itu adalah momen penting, saat-saat bersejarah dalam hidupku.
Dan jika hari itu tiba maka aku akan membuat semacam perayaan dimeja belajarku. Ada umbul-umbul yang aku tulis dengan spidol, umbul-umbul yang terbuat dari kertas bertuliskan FFI 199.. kemudian terpampang semacam baligo kecil didepan meja belajar. Semua aku buat untuk memeriahkan suasana malam penganugerahan FFI yang hanya digelar olehku satu tahun sekali. Penyelenggaraannya pun malam hari, diterangi lampu duduk. Lalu didepanku tersedia tumpukan kertas berukuran kartu remi, setiap lembarnya adalah lima nominator dari satu kategori. Jumlah kertasnya tergantung dari jumlah kategori yang selalu berubah-ubah tiap tahunnya. Lalu disamping tumpukan kertas itu tersedia sebuah gelas yang ditutup kertas terikat karet gelang. Didalam gelas telah siap lima gulungan kertas bertuliskan satu, dua, tiga, empat dan lima. Dan jika waktunya tiba, maka genderang bertalu-talu tanda malam penganugerahan dimulai. Lalu dibacakanlah kategori beserta nominatornya, and the winner goes on…. Clok koclok aku mulai mengocok gelas layaknya orang sedang arisan. Keluarlah satu gulungan. Suasana cukup menegangkan. Kemudian perlahan-lahan aku membuka kertas itu.
“Nomor tiga!!”
Lalu aku lihat di kertas nominasi, pemenangnya adalah nominator urutan tiga. Horeee.. aku bertepuk tangan sendiri, menyambut kemenangan satu judul film yang meraih piala citra. Begitulah seterusnya. Kertas demi kertas, kocokan demi kocokan aku jalani dengan enjoy, penuh kegembiraan. Aku paling senang membacakan kategori actor & aktris terbaik. Soalnya piala citra bagi mereka berarti kelas mereka akan naik, menjadi artis film papan atas. Dan otomatis pendapatan mereka naik berlipat-lipat, serta dibanjiri tawaran main difilm-film box office tahun depan. Pembacaan actor & aktris terbaik biasanya disesi akhir acara, sebelum sutradara dan film terbaik. Setelah selesai membacakan sutradara terbaik, maka aku mulai berhitung. Film mana yang layak jadi film terbaik. Karena untuk kategori ini tidaklah dikocok seperti yang lain, tapi dihitung atas jumlah nominasi dan jumlah piala yang didapat. Jika selesai berhitung maka dengan bangga aku umumkan peraih supremasi tertinggi perfilman tahun itu.
“Film terbaik tahun ini adalah……………….”
Horeeeeeeeeee, maka aku bertepuk tangan lagi. Lebih lama. Dengan senyum yang mengembang. Bangga dan terharu. Bahagia dan puas. Karena acara ini terselenggara dengan lancar dan aman. Tanpa gangguan kakakku atau adikku.
Bulan januari adalah tahun baru. Berarti aku harus membeli buku tulis baru ke warung. Buku yang akan mencatat seluruh judul film dan ide ceritaku untuk tahun itu. Begitulah kehidupanku selama enam tahun. Terhitung sejak tahun 92 sampai 98. Semua arsip aku simpan rapi dan masih ada sampai sekarang. Satu tahun satu buku. Lengkap dengan setumpuk kertas berukuran remi disetiap bukunya. Betapa aku memandang hidupku waras-waras saja. Lurus dan tidak menyimpang. Bagiku, arsip perfilman itu adalah asset berharga yang mungkin bisa berguna kelak. Bayangkan jika satu tahun aku menyimpan 100 judul film, berarti ada 600an ide cerita yang aku miliki. Dan itu bisa aku gunakan untuk ide cerita novel yang sedang aku garap saat ini. Atau ide cerita naskah film atau sinetron. Karena beberapa tahun kedepan aku akan serius menjadi seorang penulis fiksi.
Posted by adenlife 
Posted by adenlife