SEORANG FACHRI

July 29, 2008

Jika ada yang bertanya, apakah ada sosok seorang fachri (tokoh utama film Ayat-ayat cinta) dalam kehidupan nyata? Aku bisa katakan, ADA. Silahkan datang kedaerahku, wilayah pinggiran kota Bandung. Aku menemukannya jauh sebelum film fenomenal itu lahir, bahkan novelnyanya sekalipun.

Sosok Fachri, dengan tubuhnya yang tinggi kurus, berwajah tampan. Kesholehan yang membalut kepribadiannya, lengkap dengan atribut aktivitas dakwah yang menjadi makanan sehari-hari.

Saat aku pertama kali menonton film Ayat-ayat cinta, yang terbetik dalam benakku adalah dia. Aku terharu, karena sosoknya telah dipertontonkan jutaan orang. Mungkin banyak orang yang mengatakan sosok itu hanya rekaan saja, sulit menemukannya dalam kehidupan nyata. Tapi boleh kukatakan, sosok Fachri itu ada. Benar-benar nyata.

Ia seumur denganku. Lahir 6 bulan lebih muda dariku. Saat pertama kali bertemu tahun 2001, ia telah menjelma menjadi seorang remaja bijak. Argumennya begitu sempurna, tak ayal lagi dalam sekejap ia didaulat memimpin organisasi yang saat itu sedang kami dirikan.

Aku kagum dengan semua yang ia miliki. Ketampanan, kepribadian, semangat belajar, kesolehan, kecerdasan dan banyak hal lain lagi. Aku mengenalnya sangat dekat, karena saat ia menjabat ketua, aku sekretaris umumnya. Apapun kebutuhannya sebagai pemimpin, otomatis akulah yang menyiapkannya. Dengan keluarganya pun aku cukup dekat. Sebuah keluarga yang harmonis, sarat dengan nilai agamis. Tak heran kalau dia tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda seperti ini.

Fachri dalam film tersebut menjadi rebutan banyak wanita. Tak berbeda jauh dengan sahabatku ini. Ia menjadi primadona, baik dikampus maupun didaerah tempat tinggal kami. Setiap wanita punya mimpi ingin menjadi pendampingnya. Pernah satu saat ia menceritakan seorang wanita yang mengirim surat padanya, isinya persis seperti surat Naura pada Fachri.

Ia ibarat pusat magnet, selalu menarik perhatian siapapun yang berada didekatnya. Meski kuliahnya harus ia jalani 8 tahun dengan tertatih-tatih.

Pada dirinya aku dapat mengerti tentang arti persahabatan. Lewat ucapannya yang bijak aku bisa mengarungi samudera keindahan Islam. Entah berapa ratus orang telah menjadi baik dari dakwahnya. Termasuk diantaranya adalah aku.


DONGENG SEBELUM TIDUR UNTUK ANAKKU

July 29, 2008

Suatu malam aku bercerita pada Kia anakku, dongeng sebelum tidur.

Kisahnya begini, seorang anak kecil tengah bermain bersama teman-temannya disekolah. Loncat kesana loncat kesini. Mereka begitu senangnya meloncati sebuah selokan kecil yang memisahkan teras masjid dengan teras aula. Saking senangnya tanpa diduga anak kecil ini menginjak kaki temannya. Sambil mengaduh kesakitan, temannya langsung menyerang dia dengan kata-kata yang memojokkan.

“Ya udah, kamu jangan main lagi sama kita!” seru temannya

Anak kecil ini terdiam sedih, ekspresinya betul-betul mengibakan. Ia merasa bersalah meski kejadian tadi bukanlah sebuah kesengajaan.

Dengan berhati besar ia mengulurkan tangan kanannya, seraya meminta maaf. Melihat itu temannya langsung menyambut permintaan maafnya dengan baik. Dan suasana tegangpun berubah pulih seperti sebelumnya. Mereka kembali bermain bersama, dan kejadian tadi betul-betul terlupakan, tidak membekas.

Mendengar cerita itu Kia hanya senyum-senyum, dengan mata menerawang menyusuri ceritaku.

“Kok senyum-senyum, yang?” tanyaku

“Hmm lucu aja ceritanya”

Sayangku, anak kecil itu adalah kamu, sahutku dalam hati.

Aku mendengar cerita itu dari Egi, kebetulan Kia sekolah ditempat Egi mengajar. Ia memperhatikan Kia dan teman-temannya dari balik jendela masjid. Seorang anak kelas satu SD, rasanya sulit aku percaya memiliki sikap mulia seperti itu. Mungkin yang terbayang oleh Egi saat itu adalah Kia akan membela diri dan membalasnya dengan kata-kata yang lebih pedas, atau paling-paling menangis lah. Diluar dugaan Kia malah mengulurkan tangan kanannya, dan berkata “Maafin saya..” Oh God, so sweat….

Anakku, betapa bangganya abi memiliki harta tak ternilai sepertimu. Mungkin itu hal kecil yang tak kau pedulikan. Tapi buat abi, sikap itu hanya dimiliki manusia-manusia berjiwa besar, yang namanya terukir dalam sejarah.

Aku menunggu kata-kata berikutnya dari dia, seperti “Bi, kia pernah seperti itu” atau “Itu kan cerita Kia disekolah, kemarin”. Nyatanya dia tak berkata apapun lagi, ia malah membalikkan badannya dan beberapa menit kemudian terhempas dalam tidur yang lelap. Lalu aku mengecup keningnya.