H-12 : DIBALIK PEMBUATAN COVER EDCOUSTIC

Aku suka eskrim Magnum. Eskrimnya lembut dan kulit coklatnya sangat khas. Tapi bukan itu saja yang membuat aku terkagum-kagum dengan Magnum. Branding yang diciptakan sungguh menakjubkan, sebagai eskrim yang mewah dengan harga terjangkau. Lihat saja kemasannya, begitu elegan dan tampak eksklusif. Apalagi dengan kehebohan yang diciptakannya, beberapa bulan awal kemunculannya, magnum sangat sulit ditemui sehingga orang rela berburu hanya demi kepuasan, lalu menceritakannya di facebook dan twitter.

“Cover Edcoustic harus menciptakan ke-elegan-an itu..” ujarku pada Eggie

Jelas ini bukan berarti cover Edcoustic akan menjiplak sepenuhnya kemasan Magnum. Aku hanya ingin pencitraan album mengadopsi dari kesuksesan magnum. Elegan, eksklusif tapi harganya terjangkau oleh pasar Edc, yang notabene 75% remaja. Alhasil tim Kreavisi sepakat untuk menentukan warna hitam sebagai dasar pencitraan cover yang dimaksud.

Hitam sering dilambangkan sebagai kejantanan, ketegasan dan kesolidan. Warna ini bisa menjadi ciri eksklusifitas dan keanggunan sebuah benda. Saat aku mencoba mendesain rangka awal cover ini, warna hitam sangat sesuai dengan branding yang aku inginkan. Aku pun semakin semangat dalam mengerjakan desain cover ini.

Untuk mengambarkan nilai kesederhanaan yang diusung Edcoustic, tim Kreavisi beradu mulut soal perlu tidaknya foto personil dicover depan. Seperti pada album pertama dan kedua, para personil Edc selalu menghiasi cover depan dengan ukuran yang sangat close up. Namun perdebatan panjang itu akhirnya berujung pada keputusan untuk tidak memajang foto personil.

“Kenapa tidak ini saja yang kita pasang dicover?” ujarku menunjuk pada wallpaper salah satu layar komputer dikantor.

Sebuah gambar siluet Edcoustic, diedit dari foto saat kita tampil di sebuah kampus terkenal di Bandung. Gambar tersebut memperlihatkan aku yang tengah berdiri disamping Eggie yang duduk sambil memetik gitar. Siluet ini sangat mewakili siapa dan konsep musik apa yang diusung Edcoustic.

Jadilah cover depan yang full hitam dengan gambar siluet dua personil Edc, siluet itu ditempatkan pada kiri bawah. Secara estitetika ini memberi keseimbangan desain yang minimalis, dengan menempatkan logo Edcoustic dan judul album ditengah agak ke atas.

CD Hits Edcoustic tidak menggunakan hardpack casing mika sebagaimana CD lain pada umumnya. Cover yang kita keluarkan adalah softpack dari bahan kertas tebal. Hal ini disesuaikan dengan harga jual yang dibandrol 25 ribu rupiah. Kalo menggunakan hardpack, harga jualnya rata-rata diatas 35 ribu.

Karena covernya softpack, maka ini semakin memudahkan orang untuk membuka dan langsung mengambil CD didalamnya. Nah hal lucu yang terjadi adalah pada saat aku dan Eggie membuka cover yang sudah jadi, dan kita berdua kaget campur malu saat melihat foto kami yang sangat mencolok.

Kami hanya tertawa melihat wajah kami yang sok cool, meski sebetulnya tidak cool. Tim Kreavisi juga tertawa tapi untuk alasan lain,

“Jadi pada chuby ya mukanya…” tutur mereka

 

 

H-14 : Produk Pertamaku Dari Perusahaanku Sendiri

Aku memandangi lama sekali, CD album: Edcoustic Hits Satu Dekade. Album terbaru yang akan dipasarkan 27 November nanti. Ada satu kepuasan tersendiri saat aku membolak balikannya berkali-kali. Ini dia, kataku, produk pertama yang aku tangani dan diproduksi oleh perusahaanku sendiri, KREAVISI. Setelah album-album dan single sebelumnya ditangani oleh label lain.

Meski album ini hanya kumpulan dari lagu-lagu populer Edcoustic mulai dari jaman “Nantikanku Dibatas Waktu” sampai yang terkini “7 Surga”, bukan berarti pengerjaannya simple dan sembarangan. Di album ini, aku dedikasikan sepenuhnya semua nalar dan kreativitasku sebagai produser album. Aku ingin orang betul-betul bangga memilikinya, karena album ini aku rancang agar orang-orang berkata “album inilah yang menginspirasiku..”

Hits Edcoustic memilih 12 lagu terbaik dari 23 lagu Edc yang sudah di publish. Ini bukan pekerjaan yang mudah, karena itu aku selalu berkonsultasi dengan timku di Kreavisi, tak terkecuali dengan Eggie, sang gitaris. Selama beberapa minggu aku berkonsentrasi pada pemilihan lagu, karena ini sangat penting. Meski banyak usulan dari kanan kiri, nyatanya aku sendiri yang banyak menentukan. Entah itu sisi negatifku yang terlampau egosentris, atau memang aku seniman sejati yang tak mau karyanya terlalu dicampuri orang lain.

Mungkin sedikit diantara produser yang bisa mendesain sendiri cover albumnya. Dari yang sedikit itu maka akulah diantaranya. Padahal mudah saja untuk menyewa desainer grafis, tapi aku tak pernah lupa kejadian 2005 saat cover album Tashiru digarap desainer dan hasilnya menurutku tidak memuaskan. Saat itu aku bertindak sebagai salah satu tim produksi, dan aku gemas sekali melihat desain covernya. Meski bukan lulusan desain grafis, tapi aku sangat suka pekerjaan itu, dan belajar secara otodidak mengenai desain. Maka album ini pun aku sendiri yang mendesainnya, memilih percetakannya, hingga menentukan pabrik mana yang ditunjuk untuk menduplikasi CD nya.

Disaat awal perencanaan, aku ditelpon seorang ustadz, pemilik Qur’an Al Burhan, Ust. Nandang namanya. Istrinya sangat suka dengan Muhasabah Cinta, dan beliau mengajak kerjasama bundling produk, yang menurutku ini hal gila tapi masuk akal. Apa pernah kalian membeli Al Qur’an yang didalamnya ada hadiah CD album? Bagi penentang musik, rasanya itu seperti menodai kitab suci. Tapi aku suka dengan ide ustadz, toh pada kenyataannya lagu Edcoustic memiliki benang merah dengan ayat-ayat didalamnya.

Langkah awal yang baik, pikirku. Selain memenuhi permintaan para edfriends yang ingin mengoleksi album fisik Edcoustic, dengan bundling Al Qur’an Edcoustic bisa menyasar pasar yang lebih luas lagi. Rasanya aku semakin bersemangat untuk meng-edcoustic-kan masyarakatdan memasyarakatkan Edcoustic hehehe… duh bahasanya narsis amat.

Kini 14 hari menjelang album ini dirilis, ada kekhawatiran yang terus berperang dengan sikap optimismeku. Tapi aku memang suka dengan petualangan, jadi aku anggap saja ini bagian dari petualanganku. Mengenai hasilnya apakah sukses atau tidak, itu urusan Allah. Selama aku telah mengerahkan seluruh kekuatanku, aku selalu menganggapnya itulah sukses yang sebenarnya.

NANTIKANKU DIBATAS WAKTU : DIHUJAT TAPI DIGANDRUNGI

Ada satu titik petualangan bersejarah bagi Edcoustic selama perjalanan karier bermusiknya. Yaitu kontroversi NDBW yang merebak diakhir tahun 2004, kemudian menggelending membesar seperti bola salju disepanjang tahun 2005. Yup, kontroversi lagu Nantikanku Dibatas Waktu.

Aku ingat awal mula kisah ini dimulai dari keisengan seorang penyiar MQFM Bandung, Indra namanya. Ia tak sengaja memasukkan lagu tersebut kedalam playlist diacaranya. Waktu itu Edcoustic belum genap dua bulan merilis album pertamanya, dan “Berubah” yang menjadi single andalannya belum bisa mengalahkan grup-grup nasyid lain di chart request MQ. Itulah benih-benih awal lagu NDBW mulai dikenal dan menjadi pembicaraan hangat.

Nantikanku bercerita tentang ungkapan seorang ikhwan yang meminta akhwat yang dicintainya menunggu sampai ia siap melamarnya kelak. Kontan saja tema ini menjadi hal yang tak biasa dalam kancah pernasyidan, sehingga menyulut perhatian besar kalangan pecinta nasyid. Edcoustic telah mengangkat hal yang tabu untuk dibicarakan diranah musik religi.

Sebagai pencipta lagunya, aku sendiri saat itu heran, kenapa ini disebut hal tabu. Sementara disaat yang sama banyak sekali penulis-penulis novel islami memilih tema yang sama, tapi tak dipermasalahkan. Novel adalah sebuah karya, lagu pun juga sebuah karya. Bahkan sebelumnya beberapa nasyid seperti Inteam, Now See Heart dll merilis lagu dengan tema yang sama pula.

Kritikan dan cemoohan pun mulai mengalir deras, bak jamur dimusim hujan. Beberapa radio memboikot lagu ini diputar, para ustadz mengkritik secara terbuka dipengajian-pengajian, seminar dan acara-acara kampus. Diinternet pun merebak gerakan anti NDBW, dengan slogan kembalikan nasyid pada khittahnya.

Sebagai orang baru tentu saja ini menjadi shock therapy tingkat tinggi. Aku yang awalnya ingin memberi sedikit inspirasi kebaikan lewat lagu-laguku yang ditulis secara jujur, kini dianggap sebagai perusak citra nasyid. Suatu siang di studio, untuk pertama kalinya (dan aku rasa itu yang terakhir) aku menangis didepan produserku (Ahh malu rasanya mengingat itu). Pundak ini serasa tidak bisa menahan beban yang begitu berat ditanggung, terkait masalah ini. Aku bahkan berniat untuk meninggalkan saja dunia nasyid. Tapi untungnya Vina, produserku yang baik hati, terus mensupport agar aku bisa tahan banting dalam segala hal. Pohon semakin tinggi, berarti harus siap diterjang angin yang semakin kencang.

Disaat hujatan itu terus menggerus mental aku dan Eggie, disaat yang sama Yess, label rekaman albumku, malah girang tiada kepalang. Secara bisnis mereka diuntungkan dengan munculnya kontroversi ini, karena penjualan kasetpun naik tajam. NDBW semakin deras dihujat semakin kencang melesat menjadi top request dihampir semua radio nasyid Indonesia. Bahkan ia bertengger berbulan-bulan dinomor satu.

Pertengahan 2005, untuk pertama kalinya aku show di Solo. Dan untuk pertama kali pula aku melihat ratusan orang  fasih menyanyikan lagu ini saat aku nyanyikan. Sungguh, itu pengalaman luar biasa, dan memberi nafas segar buatku. Ternyata aku terlalu sibuk memikirkan orang-orang yang membenci NDBW, padahal disaat yang sama penggemar lagu itu bisa berkali-kali lipat jumlahnya.

Suka atau tidak suka itu sebetulnya sangat subjektif. Untuk sebuah lagu, orang akan menangkap pesannya dengan berbagai makna berlainan, tergantung dari sudut mana ia memandangnya. Dari kejadian ini aku semakin dewasa dalam menghadapi orang-orang yang bersebrangan pikiran.

Tak dipungkiri, kontroversi NDBW sangat berjasa dalam menaikkan popularitas Edcoustic. Padahal lagu itu disisipkan di playlist nomor 9 dalam album, bukan lagu andalan. Tapi lewat keisengan Indra, Allah sudah mentakdirkan jalan panjang untuk Edcoustic.