Aku suka eskrim Magnum. Eskrimnya lembut dan kulit coklatnya sangat khas. Tapi bukan itu saja yang membuat aku terkagum-kagum dengan Magnum. Branding yang diciptakan sungguh menakjubkan, sebagai eskrim yang mewah dengan harga terjangkau. Lihat saja kemasannya, begitu elegan dan tampak eksklusif. Apalagi dengan kehebohan yang diciptakannya, beberapa bulan awal kemunculannya, magnum sangat sulit ditemui sehingga orang rela berburu hanya demi kepuasan, lalu menceritakannya di facebook dan twitter.
“Cover Edcoustic harus menciptakan ke-elegan-an itu..” ujarku pada Eggie
Jelas ini bukan berarti cover Edcoustic akan menjiplak sepenuhnya kemasan Magnum. Aku hanya ingin pencitraan album mengadopsi dari kesuksesan magnum. Elegan, eksklusif tapi harganya terjangkau oleh pasar Edc, yang notabene 75% remaja. Alhasil tim Kreavisi sepakat untuk menentukan warna hitam sebagai dasar pencitraan cover yang dimaksud.
Hitam sering dilambangkan sebagai kejantanan, ketegasan dan kesolidan. Warna ini bisa menjadi ciri eksklusifitas dan keanggunan sebuah benda. Saat aku mencoba mendesain rangka awal cover ini, warna hitam sangat sesuai dengan branding yang aku inginkan. Aku pun semakin semangat dalam mengerjakan desain cover ini.
Untuk mengambarkan nilai kesederhanaan yang diusung Edcoustic, tim Kreavisi beradu mulut soal perlu tidaknya foto personil dicover depan. Seperti pada album pertama dan kedua, para personil Edc selalu menghiasi cover depan dengan ukuran yang sangat close up. Namun perdebatan panjang itu akhirnya berujung pada keputusan untuk tidak memajang foto personil.
“Kenapa tidak ini saja yang kita pasang dicover?” ujarku menunjuk pada wallpaper salah satu layar komputer dikantor.
Sebuah gambar siluet Edcoustic, diedit dari foto saat kita tampil di sebuah kampus terkenal di Bandung. Gambar tersebut memperlihatkan aku yang tengah berdiri disamping Eggie yang duduk sambil memetik gitar. Siluet ini sangat mewakili siapa dan konsep musik apa yang diusung Edcoustic.
Jadilah cover depan yang full hitam dengan gambar siluet dua personil Edc, siluet itu ditempatkan pada kiri bawah. Secara estitetika ini memberi keseimbangan desain yang minimalis, dengan menempatkan logo Edcoustic dan judul album ditengah agak ke atas.
CD Hits Edcoustic tidak menggunakan hardpack casing mika sebagaimana CD lain pada umumnya. Cover yang kita keluarkan adalah softpack dari bahan kertas tebal. Hal ini disesuaikan dengan harga jual yang dibandrol 25 ribu rupiah. Kalo menggunakan hardpack, harga jualnya rata-rata diatas 35 ribu.
Karena covernya softpack, maka ini semakin memudahkan orang untuk membuka dan langsung mengambil CD didalamnya. Nah hal lucu yang terjadi adalah pada saat aku dan Eggie membuka cover yang sudah jadi, dan kita berdua kaget campur malu saat melihat foto kami yang sangat mencolok.
Kami hanya tertawa melihat wajah kami yang sok cool, meski sebetulnya tidak cool. Tim Kreavisi juga tertawa tapi untuk alasan lain,
“Jadi pada chuby ya mukanya…” tutur mereka







