SEJARAH LAGU : CINTA BERKAWAN

Image

Membuat lagu bagiku kayak curhat. Makanya hampir semua laguku diambil dari pengalaman hidup. 

Termasuk lagu ‘Cinta Berkawan’, lagu edcoustic yang ada dialbum pertama, Masa Muda. Lagu ini aku buat sekira tahun 2001an, waktu jaman kuliah.

Suatu minggu pagi aku bersama tiga orang sahabatku, Eggie, Fahmi dan Tomo, jalan-jalan menyusuri rawa di daerah Rancaekek, Bandung. Kami jalan kaki berkilo-kilo meter dari rumah, menjajal area yang belum pernah dikunjungi.

Rancaekek adalah daerah pinggiran ditimur Bandung. Meski terkenal dengan banjirnya, daerah ini memiliki padang sawah yang luas dan cantik. Disebut Rancaekek karena desa ini awalnya hanya sebuah rawa (ranca) yang dipenuhi burung ekek. Pantaslah kalo sering banjir, karena memang basicly ia daerah rawa.

Aku dan teman-teman baru tahu ternyata dipedalaman desa-desanya masih ada rawa yang dipenuhi air sepanjang tahun. Kami menyusuri rawa ini dengan sampan yang disewa penduduk sekitar. Ternyata rawa ini mengantarkan kita pada batas jalan tol Padaleunyi. Luar biasa.

Turun dari sampan, kami menyebrangi tol lewat jembatan penyebrangan. Dijembatan itu aku dan lainnya menikmati pemandangan lain. Mobil-mobil berseliweran, dari bus butut sampe sedan mewah. Masih ingatkah adegan lomba membuang ludah kate & jack di Titanic? Nah itu juga yang kami lakukan dijembatan ini. Empat manusia konyol berlomba-lomba membuang ludah sejauh yang dia mampu. Tak peduli ludahnya akan mengenai mobil atau tidak. 

Puas meludah sembarangan, kami tak kuat lagi pulang dengan jalan yang sama. Disebrang jalan tol sana tampak stasiun kereta api kecil. Kami akhirnya menaiki kereta ekonomi dari stasiun kecil itu menuju stasiun kecil lainnya, yakni Rancaekek. 

Kebersamaan yang tak pernah terlupakan. Dan sampai saat ini aku belum pernah lagi mengunjungi rawa itu. Aku mengabadikan kenangan pagi itu dalam sebuah lagu. Cinta Berkawan. Lagu itu aku buat malam harinya. Aku ingin mereka tahu bahwa persahabatan kami melampaui apapun. 

Sampai saat ini kenangan itu masih membekas dalam ingatanku. Seperti halnya persahabatan kami yang terus terjaga hingga kini. 10 tahun kemudian. Cinta Berkawan memang jujur dari dalam hatiku. Betapa indahnya persahabatan karena sehati. 

H-12 : DIBALIK PEMBUATAN COVER EDCOUSTIC

Aku suka eskrim Magnum. Eskrimnya lembut dan kulit coklatnya sangat khas. Tapi bukan itu saja yang membuat aku terkagum-kagum dengan Magnum. Branding yang diciptakan sungguh menakjubkan, sebagai eskrim yang mewah dengan harga terjangkau. Lihat saja kemasannya, begitu elegan dan tampak eksklusif. Apalagi dengan kehebohan yang diciptakannya, beberapa bulan awal kemunculannya, magnum sangat sulit ditemui sehingga orang rela berburu hanya demi kepuasan, lalu menceritakannya di facebook dan twitter.

“Cover Edcoustic harus menciptakan ke-elegan-an itu..” ujarku pada Eggie

Jelas ini bukan berarti cover Edcoustic akan menjiplak sepenuhnya kemasan Magnum. Aku hanya ingin pencitraan album mengadopsi dari kesuksesan magnum. Elegan, eksklusif tapi harganya terjangkau oleh pasar Edc, yang notabene 75% remaja. Alhasil tim Kreavisi sepakat untuk menentukan warna hitam sebagai dasar pencitraan cover yang dimaksud.

Hitam sering dilambangkan sebagai kejantanan, ketegasan dan kesolidan. Warna ini bisa menjadi ciri eksklusifitas dan keanggunan sebuah benda. Saat aku mencoba mendesain rangka awal cover ini, warna hitam sangat sesuai dengan branding yang aku inginkan. Aku pun semakin semangat dalam mengerjakan desain cover ini.

Untuk mengambarkan nilai kesederhanaan yang diusung Edcoustic, tim Kreavisi beradu mulut soal perlu tidaknya foto personil dicover depan. Seperti pada album pertama dan kedua, para personil Edc selalu menghiasi cover depan dengan ukuran yang sangat close up. Namun perdebatan panjang itu akhirnya berujung pada keputusan untuk tidak memajang foto personil.

“Kenapa tidak ini saja yang kita pasang dicover?” ujarku menunjuk pada wallpaper salah satu layar komputer dikantor.

Sebuah gambar siluet Edcoustic, diedit dari foto saat kita tampil di sebuah kampus terkenal di Bandung. Gambar tersebut memperlihatkan aku yang tengah berdiri disamping Eggie yang duduk sambil memetik gitar. Siluet ini sangat mewakili siapa dan konsep musik apa yang diusung Edcoustic.

Jadilah cover depan yang full hitam dengan gambar siluet dua personil Edc, siluet itu ditempatkan pada kiri bawah. Secara estitetika ini memberi keseimbangan desain yang minimalis, dengan menempatkan logo Edcoustic dan judul album ditengah agak ke atas.

CD Hits Edcoustic tidak menggunakan hardpack casing mika sebagaimana CD lain pada umumnya. Cover yang kita keluarkan adalah softpack dari bahan kertas tebal. Hal ini disesuaikan dengan harga jual yang dibandrol 25 ribu rupiah. Kalo menggunakan hardpack, harga jualnya rata-rata diatas 35 ribu.

Karena covernya softpack, maka ini semakin memudahkan orang untuk membuka dan langsung mengambil CD didalamnya. Nah hal lucu yang terjadi adalah pada saat aku dan Eggie membuka cover yang sudah jadi, dan kita berdua kaget campur malu saat melihat foto kami yang sangat mencolok.

Kami hanya tertawa melihat wajah kami yang sok cool, meski sebetulnya tidak cool. Tim Kreavisi juga tertawa tapi untuk alasan lain,

“Jadi pada chuby ya mukanya…” tutur mereka

 

 

NANTIKANKU DIBATAS WAKTU : DIHUJAT TAPI DIGANDRUNGI

Ada satu titik petualangan bersejarah bagi Edcoustic selama perjalanan karier bermusiknya. Yaitu kontroversi NDBW yang merebak diakhir tahun 2004, kemudian menggelending membesar seperti bola salju disepanjang tahun 2005. Yup, kontroversi lagu Nantikanku Dibatas Waktu.

Aku ingat awal mula kisah ini dimulai dari keisengan seorang penyiar MQFM Bandung, Indra namanya. Ia tak sengaja memasukkan lagu tersebut kedalam playlist diacaranya. Waktu itu Edcoustic belum genap dua bulan merilis album pertamanya, dan “Berubah” yang menjadi single andalannya belum bisa mengalahkan grup-grup nasyid lain di chart request MQ. Itulah benih-benih awal lagu NDBW mulai dikenal dan menjadi pembicaraan hangat.

Nantikanku bercerita tentang ungkapan seorang ikhwan yang meminta akhwat yang dicintainya menunggu sampai ia siap melamarnya kelak. Kontan saja tema ini menjadi hal yang tak biasa dalam kancah pernasyidan, sehingga menyulut perhatian besar kalangan pecinta nasyid. Edcoustic telah mengangkat hal yang tabu untuk dibicarakan diranah musik religi.

Sebagai pencipta lagunya, aku sendiri saat itu heran, kenapa ini disebut hal tabu. Sementara disaat yang sama banyak sekali penulis-penulis novel islami memilih tema yang sama, tapi tak dipermasalahkan. Novel adalah sebuah karya, lagu pun juga sebuah karya. Bahkan sebelumnya beberapa nasyid seperti Inteam, Now See Heart dll merilis lagu dengan tema yang sama pula.

Kritikan dan cemoohan pun mulai mengalir deras, bak jamur dimusim hujan. Beberapa radio memboikot lagu ini diputar, para ustadz mengkritik secara terbuka dipengajian-pengajian, seminar dan acara-acara kampus. Diinternet pun merebak gerakan anti NDBW, dengan slogan kembalikan nasyid pada khittahnya.

Sebagai orang baru tentu saja ini menjadi shock therapy tingkat tinggi. Aku yang awalnya ingin memberi sedikit inspirasi kebaikan lewat lagu-laguku yang ditulis secara jujur, kini dianggap sebagai perusak citra nasyid. Suatu siang di studio, untuk pertama kalinya (dan aku rasa itu yang terakhir) aku menangis didepan produserku (Ahh malu rasanya mengingat itu). Pundak ini serasa tidak bisa menahan beban yang begitu berat ditanggung, terkait masalah ini. Aku bahkan berniat untuk meninggalkan saja dunia nasyid. Tapi untungnya Vina, produserku yang baik hati, terus mensupport agar aku bisa tahan banting dalam segala hal. Pohon semakin tinggi, berarti harus siap diterjang angin yang semakin kencang.

Disaat hujatan itu terus menggerus mental aku dan Eggie, disaat yang sama Yess, label rekaman albumku, malah girang tiada kepalang. Secara bisnis mereka diuntungkan dengan munculnya kontroversi ini, karena penjualan kasetpun naik tajam. NDBW semakin deras dihujat semakin kencang melesat menjadi top request dihampir semua radio nasyid Indonesia. Bahkan ia bertengger berbulan-bulan dinomor satu.

Pertengahan 2005, untuk pertama kalinya aku show di Solo. Dan untuk pertama kali pula aku melihat ratusan orang  fasih menyanyikan lagu ini saat aku nyanyikan. Sungguh, itu pengalaman luar biasa, dan memberi nafas segar buatku. Ternyata aku terlalu sibuk memikirkan orang-orang yang membenci NDBW, padahal disaat yang sama penggemar lagu itu bisa berkali-kali lipat jumlahnya.

Suka atau tidak suka itu sebetulnya sangat subjektif. Untuk sebuah lagu, orang akan menangkap pesannya dengan berbagai makna berlainan, tergantung dari sudut mana ia memandangnya. Dari kejadian ini aku semakin dewasa dalam menghadapi orang-orang yang bersebrangan pikiran.

Tak dipungkiri, kontroversi NDBW sangat berjasa dalam menaikkan popularitas Edcoustic. Padahal lagu itu disisipkan di playlist nomor 9 dalam album, bukan lagu andalan. Tapi lewat keisengan Indra, Allah sudah mentakdirkan jalan panjang untuk Edcoustic.